Kamis, 26 September 2019

LANDASAN TIK UNTUK PEMBELAJARAN JARAK JAUH

LANDASAN TIK UNTUK PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Perkembangan ini memiliki dampak semakin terbuka dan tersebarnya informasi dan pengetahuan dari dan ke seluruh dunia menembus batas jarak, tempat, ruang dan waktu. Pengaruhnya pun meluas ke berbagai kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Pendidikan merupakan suatu proses yang tujuannya untuk meningkatkan nilai sosial, budaya, moral dan agama, serta mempersiapkan pembelajar menghadapi tantangan dan pengalaman dalam kehidupan nyata. Untuk itu dalam pendidikan diperlukan proses pembelajaran yang efektif dan efisien yang menjadikan pembelajar menyerap informasi dan pengetahuan serta teknologi yang dipelajarinya sebagai bagian dari dirinya. 
Pemanfatan teknologi dalam sistem pembelajaran menimbulkan pembelajaran berbasis elektronik sebagai hasil teknologi. Salah satu aplikasi teknologi adalah teknologi informasi dan komunikasi. Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi ini yang telah mengubah sistem pembelajaran pola konvensional atau tradisional menjadi pola bermedia, diantaranya media komputer dengan in- ternetnya yang memunculkan e-learning. Pada pola pembelajaran bermedia ini, pembelajar dapat memilih materi pembelajaran berdasarkan minatnya sendiri, sehingga belajar menjadi menyenangkan, tidak membosankan, penuh motivasi, semangat, menarik perhatian dan sebagainya. 
Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi akan berjalan efektif jika peran pengajar dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator pembelajaran atau memberikan kemudahan pembelajar untuk belajar bukan hanya sebagai pemberi informasi. Pengajar bukan satu-satunya sumber informasi yang disampai- kan. Pengajar tidak hanya mengajar mentransfer ilmu pengetahuan, akan tetapi juga dapat belajar dari pembelajar. Pengajar bukan instruktur yang memberikan perintah atau mengarahkan kepada pembelajar, melainkan menjadi mitra belajar (partner) sehingga memungkinkan pembelajar tidak segan untuk berpendapat, bertanya, atau bertukar pendapat dengan pengajar. Proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi merupakan bimbingan dari pengajar untuk memfasilitasi pembelajaran pembelajar dengan efektif. Pengajar memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya dan menciptakan kondisi bagi pembelajar untuk mengembangkan cara-cara belajarnya sendiri sesuai dengan karakteristik, kebutuhan, bakat, atau minatnya. Pengajar pun berperan sebagai pemrogram, yaitu selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya inovatif berupa program atau perangkat keras/lunak yang akan digunakan untuk mem- belajarkan pembelajar. Peran pembelajar dalam pembelajaran bukan obyek yang pasif yang hanya menerima informasi dari pengajar, namun lebih aktif, kreatif, dan partisipatif dalam proses pembelajaran. Pembelajar tidak hanya mengingat fakta-fakta atau mengungkapkan kembali informasi yang diterimanya dari pengajar, namun mampu menghasilkan atau menemukan berbagai informasi atau ilmu pengetahuan. Pembelajaran yang dilakukan pembelajar tidak hanya kegiatan perorangan (individual), namun juga pembelajaran berkelompok secara kooperatif dengan pembelajar lainnya. 
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran antara lain dengan: 
  1. Pengajar dan pembelajar mampu mengakses pada teknologi informasi dan komunikasi. 
  2. Pengajar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, karena pengajar berperan sebagai pem- belajar yang harus belajar terus menerus sepanjang hayat. Tujuannya untuk meningkatkan profesional dan kompetensinya. 
  3. Tersedia materi pembelajaran yang berkualitas dan bermakna (meaningful)
Teknologi informasi dan komunikasi memiliki peran yang penting dalam kehidu- pan sekarang dan di masa yang akan datang, termasuk dalam bidang pendidi- kan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan telah memicu kecenderungan pergeseran dari pembelajaran konvensional secara tatap muka ke arah pembelajaran jarak jauh yang dapat diakses dengan meng- gunakan media, seperti komputer, multimedia daninternet tanpa dibatasi jarak, tempat, dan waktu oleh siapa pun yang memerlukannya. Apalagi dengan ma- suknya pengaruh globalisasi, pendidikan akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja yang kompetitif. 
Melalui teknologi informasi dan komunikasi, ada suatu peningkatan keterhubungan orang dalam bidang pendidikan. Lingkungan pendidikan global dipandang dalam beberapa hal untuk menjadi jawaban terhadap kemiskinan dan perma- salahan lain melalui meningkatnya peluang belajar yang terdistribusi. Globalisasi pendidikan mendorong ke arah homogenitas, memudarnya otonomi, budaya, dan kemanusiaan. Globalisasi, perubahan sosial, dan pendidikan globalisasi merupak- an konsep yang berhubungan dengan kemajuan teknologi yang mempunyai dampak terhadap pemahaman tentang pendidikan. Stromquist dan Monkman (2000) menyatakan bahwa proses globalisasi (mencakup persyaratan keterampilan dari kemajuan teknologi) telah menciptakan iklim dimana pengaruh bisnis menyertai nilai serta norma-norma yang sedang menyebar di seluruh dunia. 
Globalisasi adalah justifikasi untuk transformasi dalam pendidikan dan pembelajaran. Pengajar harus lebih fleksibel, bekerja lebih keras, dan mengembangkan keterampilan teknologi agar pendidikan lebih berkontribusi terhadap produktivi- tas untuk mencapai daya saing/kompetitif global. Globalisasi saat ini merupakan satu konsep yang jauh lebih sesuai untuk masuk dengan perubahan dalam sektor pendidikan tinggi. Edwards (2002) dan pakar lainnya (e.g., Marshall dan Gregor. 2002; The World Bank Institute, dan lain-lain.) menggunakan istilah globalisasi untuk menggambarkan satu proses pengembangan sumber daya pendidikan yang meliputi tim pengembangan lokal yang berpartner dengan institusi terpusat. Glo- balisasi menyertakan materi pembelajaran untuk komunitas lokal dan koleksi be- sar di seluruh dunia secara online. Dalam pandangan ini, teknologi informasi dan komunikasi yang maju dapat ditata ulang, lebih daripada hanya sekedar meng- gantikan keanekaragaman budaya. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan belajar global yang melibatkan pengetahuan dan budaya lokal, tetapi juga menghubungkan pembelajar secara internasional. 
Dampak globalisasi ini dunia pendidikan pada masa kini dan masa yang akan datang ada beberapa kecenderungan antara lain: 
  1. Pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang semakin berkembang dengan adanya kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka (open edu- cation) dan pendidikan jarak jauh (distance education)
  2. Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan dalam sebuah jaringan. 
  3. Banyaknya sumber informasi, bukan hanya perpustakaan, melainkan juga in- strumen pendidikan lainnya seperti pengajar atau laboratorium, perpustakaan digitalmelalui internet
  4. Efektifitas pemanfaatan perangkat teknologi informasi dan komunikasi interaktif dengan multimedia, seperti komputer dengan internetnya untuk melengkapi media pembelajaran yang telah ada, sehingga penggunaan media pembelajaran menjadi lebih bervariasi. 

A.   PENGERTIAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Teknologi informasi dan komunikasi adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa dan teknik pengelolaan yang digunakan dalam pengendalian dan pemprosesan informasi serta penggunaannya, hubungan komputer dengan manusia dan hal yang berkaitan dengan sosial, ekonomi dan kebudayaan [Brit- ish Advisory Council for applied Research and Development: Report on Information Technology; H.M. Stationery Office. 1980). Teknologi informasi dan komunikasi terdiri dari semua bentuk teknologi yang terlibat dalam pengumpulan, manipu- lasi, persembahan dan menggunakan data (data yang ditransformasi kepada infor- masi) [E.W. Martin et al. 1994. Managing Information Technology: What Manag- ers Need to Know. New York :Prentice Hall]. Teknologi informasi dan komunikasi adalah segala sesuatu yang mendukung untuk me-record, menyimpan, mempros- es, mendapat lagi, memancar/mengantarkan dan menerima informasi (Behan & Holmes. 1990. Understanding of Information Technologies. Prentice Hall). 

B.   LATAR BELAKANG DISELENGGARAKANNYA PEMBELAJARAN JARAK JAUH
1.     Untuk Mengatasi Batasan Jarak, Tempat, Waktu 
2.     2. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi 
3.     Pemerataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan 
4.    Memberikan Kesempatan Meningkatkan Kemampuan Tingkat Pendidikan 

C.  TUJUAN MEMPELAJARI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH
1.    Tujuan mempelajari teknologi informasi dan komunikasi, antara lain: 
2.    Dapat mengetahui, mengenal, atau memahami teknologi informasi dan komu- nikasi. Meningkatkan pengetahuan dan minat pembelajar pada teknologi, serta meningkatkan kemampuan berfikir ilmiah sekaligus persiapan untuk pendidikan, pekerjaan, dan peran di masyarakat pada masa yang akan datang. 
3.    Dapat bersikap aktif, kreatif, apresiatif, dan mandiri dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu juga dapat menghargai karya cipta di bidang teknologi informasi dan komunikasi. 
4.     Dapat terampil memanfaatkan teknologi informasi untuk proses pembelajaran dan dalam kehidupan sehari-hari. Membentuk kemampuan dan minat pembelajar terhadap teknologi. Ruang lingkup teknologi informasi dan komunikasi meliputi aspek-aspek sebagai berikut perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, dan menyajikan informasi. Diantara perangkat keras dan perangkat lunak terdapat alat bantu telekomunikasi untuk memproses dan memindah data dari satu perangkat ke perangkat lainnya. 

Perkembangan penggunaan teknologi informasi antara lain melalui beberapa tahap, yaitu: 
1. Penggunaan Audio Visual Aid (AVA) 
Penggunaan Audio Visual Aid yaitu alat bantu berbentuk audio (memanfaatkan pendengaran) dan Visual (memanfaatkan penglihatan) di kelas untuk menyam- paikan materi pembelajaran. Selain itu juga agar pembelajar mengembangkan ke- mampuan berpikirnya. 
2. Penggunaan Komputer dalam Pendidikan. 
Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan teknologi. Perkem- bangan teknologi telah mengubah masyarakat dari industri menjadi informasi, di- tandai dengan tumbuh dan berkembangnya masyarakat berpendidikan yang ber- basis teknologi informasi dan komunikasi, seperti adanya komputer, baik dari segi software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras). Pengembangan sistem dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi berbasis komputer memiliki beberapa taha- pan dari mulai sistem itu direncanakan sampai dengan diterapkan, dioperasikan dan dipelihara. 

Beberapa peran teknologi informasi dan komunikasi yang dapat memfasilitasi pembelajaran jarak jauh adalah: 
  1. Asynchronous discussion. Pada pembelajaran online, para pembelajar dapat menggunakan waktu disesuaikan dengan kebutuhannya masing- masing di dalam merefleksikan, berdiskusi dan memberikan komen- tarnya. Kondisi ini dapat meningkatkan kualitas diskusi dan merubah psikologi dan sosiologi komunikasi. Selain itu dapat mengembangkan strategi yang berbeda di dalam pemecahan masalah diantara para pem- belajar. 
  2. Instructur control of online conference and roles. Dengan konferensi on- line, pengajar dapat mengendalikan keanggotaan setiap pembelajarnya, peran pembelajar, dan memungkinkan memantau pelaksanan dis- kusi. Beberapa kelompok dapat pula mengembangkan online sendiri di dalam berdiskusi lebih lanjut ataupun di dalam berdiskusi dalam melaksanakan tugas, sehingga dapat memfasilitasi suatu team work. 
  3. Questions and answer communication protocol: Pengajar dapat melontar- kan pertanyaan selama diskusi berlangsung. Pengajar dapat mengen- dalikan siapa yang sudah menemukan jawabannya dengan mencegah pembelajar lainnya untuk dapat mencontek, sampai mereka sendiri benar-benar menemukan jawabannya. 
  1. Anonymity and pen name signatures. Ketika pembelajar bekerja menjadi bagian dari diskusi yang sedang berlangsung, mereka dapat meman- faatkan pengalaman kehidupan nyata di dunia kerjanya untuk mem- berikan illustrasi atas pemahaman konsep yang diajarkan oleh pengajar. Misalnya, berupa komentar yang dapat memberikan makna yang lebih kepada pembelajar yang sedang belajar melengkapi apa yang diajarkan oleh pengajar. Selain itu, memungkinkan juga adanya nama samaran sehingga seseorang mampu mengembangkan personalnya tanpa diket- ahui identitas sebenarnya, dan secara ekstrim sangat berguna di dalam pembelajaran yang mengharapkan adanya permainan peran seperti metode pembelajaran kolaboratif. 
  2. Membership status lists. Pemantauan aktivitas seperti membaca dan memberikan respon di dalam komunikasi, memungkinkan pengajar mengetahui apa yang masing-masing pembelajar telah baca dan se- berapa up-to-date setiap di dalam forum diskusi. Hal ini memungkinkan pengajar mendeteksi apabila terjadi ada pembelajar yang tertinggal pelajarannya. Kelompok pembelajar kolaboratif dapat mengusahakan setiap orang di dalam tim up-to-date. Setiap pembelajar dapat dengan mudah membandingkan frekuensi dan kontribusi relatifnya bagi pem- belajar lainnya di dalam pembelajaran. 
  3. Voting. Akses yang mudah di dalam kelompok ataupun individual un- tuk memberikan pendapatnya dapat pula dalam bentuk votingVoting tidak hanya digunakan ketika membuat keputusan, lebih kepada fung- sinya untuk mengeksplor (menggali) dan menemukan yang disepakati dan apa yang tidak disepakati atau ketidakpastian, sehingga kelas dapat secara fokus melanjutkan diskusi. Dimungkinkan pula pembelajar merubah pendapatnya kapan saja selama diskusi berlangsung. 
  4. Special purpose scaling methods. Metode yang berguna ini dapat menun- jukkan kesepakatan kelompok yang sesungguhnya dan meminimalkan ambiguisitas. Ada suatu sistem yang memungkinkan setiap pembelajar pada akhir pembelajarannya mengungkapkan apa yang mereka pikir- kan paling penting dari apa yang sudah dipelajarinya. 
  5. Information overload. Hal ini dapat terjadi jika antusiasme pembelajar di dalam diskusi sangat tinggi, dengan banyaknya pembelajar saling memberikan komentar, sehingga terjadi kelebihan informasi. Masalah ini dapat diatasi dengan membatasi ukuran kelompok yang dapat ditan- gani oleh media teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan. 

Diskusi online memungkinkan setiap individu untuk memberikan komentar kapan saja tanpa perlu menunggu orang lain berkomentar ter- lebih dahulu. 



Rabu, 25 September 2019

The Cognitive Theory Of Multimedia Learning (CTML)

THE COGNITIVE THEORY OF MULTIMEDIA LEARNING  (CTML)

A. TEORI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN

Teori kognitif adalahteori yang mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan presepsi dan pemahaman yang dapat diukur dan diamati. Model ini lebih berorientasi pada studi bagaimana siswa belajar berpikir. Fokus studiya adalah pada pertanyaan perkembangan kognitif.Bagi guru yang terpenting adalah bagaimana dapat mempengaruhi perkembangan berpikir dan bagaimana guru dapat menyesuaikan pengajaran dengan tingkat perkembangan kognitif para siswa.



Jean Piaget adalah seorang pakar yang jenius telah mempublikasikan mengenai studi perkembangan kognitif. Pemikiran Piaget ini lebih terkonsentrasikan kepada pendidikan anak namun program pendidikan orang dewasa pun banyak yang menggunakan konsep Piaget ini. Piaget meyakini bahwa pada dasarnya setiap manusia mengalami perkembangan dalam tingkat berpikirnya melalui tahapan-tahapan yang rumit. Setiap tahapan ditandai dengan pemilihan konsep sebagai skema. Skema itu merupakan program atau strategi yang di gunakan oleh manusia pada saat berinteraksi dengan lingkunganya.
Hasil interaksi ini adalah pengalaman. Pengalaman itu dipadukan ke dalam pola perilaku. Apabila pengalamanya itu tidak memadai untuk menjelaskan hal-hal baru,maka manusia akan mengembangkan skema baru dan menyelesaikan dengan informasi baru. Tanpa struktur yang terkait dengan lingkungan, maka aspek-aspek tertentu seolah-olah tidak ada bagi kita. Bagi seorang anak, untuk mampu menyusun benda secara teratur di perlukan waktu yang cukup lama. Kapasitas kognitif anak tumbuh melalui perkembangan skema yang lebih kompleks untuk di padukan dengan lingkunganya.Sumber penyebab ini semua adalah penyesuaian.
Pada awal kegiatan belajar, skema dalam otak anak dalam keadaan seimbang. Setelah pengalaman masuk, ketidakseimbangan mulai muncul antara data dan struktur Kognitif. Saat inilah anak harus mulai untuk dapat menyesuaikan pengalaman baru yang tidak dapat di atasi dengan skema yang ada dengan menyusun kembali struktur kognitif yang di butuhkan.
Sebagai pakar psikologi perkembangan kognitif, Piaget telah menemukan bahwa perkembangan skema terjadi dengan urutan yang sama dengan kecepatan yang di ukur oleh kematangan fisiologis kita.Atas dasar itu, maka Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif sebagai berikut.
1. Tahapan sensorimotor (0-2 tahun). dimana anak berpikir dengan merujuk pada perilaku yang bersifat praverbal. Pada tahapan ini anak pedili pada benda sebagai benda.



2. Tahapan praoperasional (2-7 tahun).Tahapan ini di bagi dua bagian yaitu:
·      Tahapan prakonseptual (2-4 tahun )artinya awal dari intelegensi konseptual dimana anak sudah dapat mengembangkan fungsi simbol.
·      Tahapan intuitif (4-7)artinya anak belum dapat berpikir secara logis.

3.Tahapan operasional (7-16 tahun).Tahapan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu:
  • Tahapan konkrit operasional (7-11 tahun)artinya pada tahap ini anak sudah mulai dapat berpkir secara rasional yang di awali dengan mempersepsi banda-benda konkrit
  • Tahapan formal operasional (11-16 tahun)artinya anak usia sekolah lanjutan ini mulai memunculkan kemampuan untuk memecahkan masalah secara logis.tahap berpikir ini di anggap reflektif karena anak bernalar dengan dasar asumsi formal.

Pandangan Piaget bahwa perkembangan kognitif itu terjadi melalui proses yang disebut dengan adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan dan intelektual melalui dua hal yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses yang anak upayakan untuk menafsirkan pengalaman yang di dasarkan pada interpretasinya saat sekarang mengenai dunianya, sedangkan akomodasi adalah upaya individu untuk menyesuaikan keberadaan struktur pikiran dengan sejumlah pengalaman barunya.
Dalam aplikasinya model ini dapat diterapkan pada perkembangan kognitif dan perkembangan sosial. Model ini dapat pula di manfaatkan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi untuk tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini dapat digunakan untuk meyakinkan bahwa siswa dapat bekerja dengan baik dalam lingkungan atau untuk mengkhususkan dengan berbagai macam kegiatan yang akan mempercepat perkembangan kognitif siswa itu sendiri. Model pembelajaran kognitif dari Piaget ini dapat di terapkan pada skema perkembangan apapun.

Dalam teori kognitif ini ada 3 variabel yang harus dipertimbangkan. Variabel variabel ini adalah:
1.       Faktor perilaku.
2.       Faktor lingkungan atau disebut juga faktor ekstrinsik.
3.       Faktor personal atau dikenal juga sebagai faktor intrinsic.
Tiga variabel dalam teori kognitif social ini dapat dikatakan saling berkaitan satu dengan lainnya. Ketiganya merupakan variabel yang secara bersama sama membantu proses belajar untuk terjadi. Suatu pengalaman individu akan bergabung dengan berbagai macam determinan yang menentukan perilaku serta faktor lingkungan.
Dalam interaksi antara seseorang dengan lingkungannya, keyakinan manusia, idea dan kompetensi kognitif akan dimodifikasi dan diubah oleh berbagai rupa faktor eksternal. Contoh contoh faktor eksternal ini misalnya adalah orang tua yang memberikan dukungan, lingkungan yang penuh dengan stress atau bisa juga seperti udara yang panas dan berdebu atau ilkim yang dingin. (Baca juga : Psikologi Warna)
Demikian juga halnya dalam interaksi antara seseorang dengan perilaku. Dalam hal ini, proses kognitif seseorang akan mempengaruhi perilakunya. Dmikian pula halnya adalah kinerja dari perilaku yang demikian akan mengubah bagaimana cara seseorang berpikir.
Pada akhirnya adalah interaksi antara lingkungan dengan perilaku. Faktor eksternal dapat mengubah bagaimana seseorang berperilaku. Demikian juga sebaliknya, perilaku seseorang juga dapat mempengaruhi dan memberikan perubahan terhadap lingkungan yang berada di sekitarnya.
Dengan demikian maka model ini secara jelas mengimplikasikan bahwa agar proses belajar yang efektif dan mendorong k earah yang positif dapat terjadi, maka suatu individu seharusnya memiliki karakteristik personal yang bersifat positif, menunjukkan perilaku yang semestinya dan juga berada di dalam lingkungan yang memberikan dukungan.
Sebagai tambahannya, teori kognitif sosial menyebutkan bahwa pengalaman baru harus dievaluasi oleh suatu individu yang berada dalam tahap belajar dengan menggunakan metode untuk melakukan analisa perbandingan terhadap pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Perlu diingat bahwa pengalaman yang pernah dialamu sebelumnya yang digunakan dalam analisa ini harus memiliki determinan yang sama.
Oleh karena itu, maka menurut teori kognitif sosial, proses pembelajaran sendiri merupakan hasil dari evaluasi yang seksama dan mendalam terhadap pengalaman yang dialami sekarang ini dibandingkan dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya
Teori belajar kognitif muncul dilatarbelakangi oleh ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan-penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar, sebagaimana dikemukakan oleh teori Behavior, yang menekankan pada hubungan stimulus-respons- reinforcement. Munculnya teori kognitif merupakan wujud nyata dari kritik terhadap teori Behavior yang dianggap terlalu naïf, sederhana, tidak masuk akal dan sulit dipertanggungjawabkan secara psikologis.Menurut paham kognitif, tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward (ganjaran) dan reinforcement (penguatan). Tingkahlaku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan untuk mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkahlaku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh pemahaman atau insight untuk pemecahan masalah. Paham kognitifis berpandangan bahwa, tingkahlaku seseorang sangat tergantung pada pemahaman atau insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi.
Menurut teori kognitif, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.Proses ini tidak berjalan secara terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung dan menyeluruh. Ibarat seseorang yang memainkan alat musik, orang tidak akan bisa alat memainkan musik tanpa memahami terlebih not-not balok yang terpampang pada portitur sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tetapi sebagai satu kesatuan yang secara utuh masuk pikiran dan perasaannya. 
Dalam praktik, teori ini terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan“ yang diusulkan oleh Jean Piaget, “belajar bermakna” oleh Ausubel, dan “belajar penemuan” (Discovery Learning) oleh Jerome Bruner, belajar pemahaman (insight) dan sebagainya. Kesemuanya itu akan dibahas dalam makalah ini dengan menggunakan pendekatan library research dengan teknik study dokumentasi. Maksudnya adalah data berkaitan dengan teori kognitif dikumpulkan dari buku-buku, jurnal dan karya iilmiah dan sebagainya. Kemudian dianalisis dengan pendekatan reflektif thinking, yaitu kombinasi antara pendekatan induksi dan deduksi. 
B. TEORI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MULTIMEDIA
Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa dan menciptkan proses pembelajaran yang lebih bermakna. Pembelajaran yang bermakna didefinisikan sebagai pemahaman yang mendalam mengenai suatu materi, proses pengaturan mental yang dikaitkan secara masuk akal dengan struktur kognitif dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Pembelajaran bermakna menggambarkan kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui pada situasi dan kondisi yang nyata, baru dan berbeda (Mayer dan Moreno, 2003).

Pembelajaran bermakna memerlukan peran serta siswa dalam proses kognitif selama pembelajaran berlangsung, tetapi kapasitas siswa dalam menggunakan proses kognitifnya memiliki keterbatasan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus menciptakan rekognisi melalui penggunaan multimedia, penggunaan multimedia pembelajaran memiliki sensitifitas terhadap beban proses kognitif siswa selama pembelajaran (Clark ; Sweller ; vanMerrinboer dalam Mayer dan Moreno, 2003). Kondisi tersebut menunjukkan adanya interaksi antara multimedia dan proses kognitif selama proses pembelajaran berlangsung, interaksi tersebut dikenal dengan model teori kognitif multimedia pembelajaran yang dikembangkan oleh Mayer.
Mayer mengemukakan  teori  pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi, yakni: 
1. Asumsi dual kanal, yang menyatakan bahwa manusia menggunakan kanal  pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik melalui kanal visual maupun melalui kanal auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur ( speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua. kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2. Asumsi keterbatasan kapasitas, yang menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi  presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dsb) dan beberapa informasi tutur (auditif ). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun  beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahawa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu saat.
3. Asumsi pemprosesan aktif, yang menyatakan bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk mengkonstruksi gambaran mental dari  pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak seperti tape recorder  yang secara  pasif merekam informasi melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya



DAFTAR RUJUKAN
University Press
Ratna Wilis Dahar, 1988, Teori-teori Belajar, Jakarta: Direktorat P dan K Santrock, J.W, 2004, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta, Erlangga 
Sjarkawi, 2006, Pembentukan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, Jakarta: Bumi Aksara 
Slameto, 1995, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta 
S. Nasution, 2010, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar , Jakarta: Bumi Aksara 
___________, 1999, Didaktik Asas-asas Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara
Slaven, Robert. E, 2011, Educational Psycology: Theory and Practice. (America: The United States of America) 
Sumardi Suryabrata, 2006, Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo