THE COGNITIVE THEORY OF MULTIMEDIA LEARNING (CTML)
A. TEORI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN
Teori kognitif adalahteori yang mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan presepsi dan pemahaman yang dapat diukur dan diamati. Model ini lebih berorientasi pada studi bagaimana siswa belajar berpikir. Fokus studiya adalah pada pertanyaan perkembangan kognitif.Bagi guru yang terpenting adalah bagaimana dapat mempengaruhi perkembangan berpikir dan bagaimana guru dapat menyesuaikan pengajaran dengan tingkat perkembangan kognitif para siswa.
Jean Piaget adalah seorang pakar yang jenius telah mempublikasikan mengenai studi perkembangan kognitif. Pemikiran Piaget ini lebih terkonsentrasikan kepada pendidikan anak namun program pendidikan orang dewasa pun banyak yang menggunakan konsep Piaget ini. Piaget meyakini bahwa pada dasarnya setiap manusia mengalami perkembangan dalam tingkat berpikirnya melalui tahapan-tahapan yang rumit. Setiap tahapan ditandai dengan pemilihan konsep sebagai skema. Skema itu merupakan program atau strategi yang di gunakan oleh manusia pada saat berinteraksi dengan lingkunganya.
Hasil interaksi ini adalah pengalaman. Pengalaman itu dipadukan ke dalam pola perilaku. Apabila pengalamanya itu tidak memadai untuk menjelaskan hal-hal baru,maka manusia akan mengembangkan skema baru dan menyelesaikan dengan informasi baru. Tanpa struktur yang terkait dengan lingkungan, maka aspek-aspek tertentu seolah-olah tidak ada bagi kita. Bagi seorang anak, untuk mampu menyusun benda secara teratur di perlukan waktu yang cukup lama. Kapasitas kognitif anak tumbuh melalui perkembangan skema yang lebih kompleks untuk di padukan dengan lingkunganya.Sumber penyebab ini semua adalah penyesuaian.
Pada awal kegiatan belajar, skema dalam otak anak dalam keadaan seimbang. Setelah pengalaman masuk, ketidakseimbangan mulai muncul antara data dan struktur Kognitif. Saat inilah anak harus mulai untuk dapat menyesuaikan pengalaman baru yang tidak dapat di atasi dengan skema yang ada dengan menyusun kembali struktur kognitif yang di butuhkan.
Sebagai pakar psikologi perkembangan kognitif, Piaget telah menemukan bahwa perkembangan skema terjadi dengan urutan yang sama dengan kecepatan yang di ukur oleh kematangan fisiologis kita.Atas dasar itu, maka Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif sebagai berikut.
1. Tahapan sensorimotor (0-2 tahun). dimana anak berpikir dengan merujuk pada perilaku yang bersifat praverbal. Pada tahapan ini anak pedili pada benda sebagai benda.
2. Tahapan praoperasional (2-7 tahun).Tahapan ini di bagi dua bagian yaitu:
· Tahapan prakonseptual (2-4 tahun )artinya awal dari intelegensi konseptual dimana anak sudah dapat mengembangkan fungsi simbol.
· Tahapan intuitif (4-7)artinya anak belum dapat berpikir secara logis.
3.Tahapan operasional (7-16 tahun).Tahapan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu:
- Tahapan konkrit operasional (7-11 tahun)artinya pada tahap ini anak sudah mulai dapat berpkir secara rasional yang di awali dengan mempersepsi banda-benda konkrit
- Tahapan formal operasional (11-16 tahun)artinya anak usia sekolah lanjutan ini mulai memunculkan kemampuan untuk memecahkan masalah secara logis.tahap berpikir ini di anggap reflektif karena anak bernalar dengan dasar asumsi formal.
Pandangan Piaget bahwa perkembangan kognitif itu terjadi melalui proses yang disebut dengan adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan dan intelektual melalui dua hal yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses yang anak upayakan untuk menafsirkan pengalaman yang di dasarkan pada interpretasinya saat sekarang mengenai dunianya, sedangkan akomodasi adalah upaya individu untuk menyesuaikan keberadaan struktur pikiran dengan sejumlah pengalaman barunya.
Dalam aplikasinya model ini dapat diterapkan pada perkembangan kognitif dan perkembangan sosial. Model ini dapat pula di manfaatkan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi untuk tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini dapat digunakan untuk meyakinkan bahwa siswa dapat bekerja dengan baik dalam lingkungan atau untuk mengkhususkan dengan berbagai macam kegiatan yang akan mempercepat perkembangan kognitif siswa itu sendiri. Model pembelajaran kognitif dari Piaget ini dapat di terapkan pada skema perkembangan apapun.
Dalam teori kognitif ini ada 3 variabel yang harus dipertimbangkan. Variabel variabel ini adalah:
1. Faktor perilaku.
2. Faktor lingkungan atau disebut juga faktor ekstrinsik.
3. Faktor personal atau dikenal juga sebagai faktor intrinsic.
Tiga variabel dalam teori kognitif social ini dapat dikatakan saling berkaitan satu dengan lainnya. Ketiganya merupakan variabel yang secara bersama sama membantu proses belajar untuk terjadi. Suatu pengalaman individu akan bergabung dengan berbagai macam determinan yang menentukan perilaku serta faktor lingkungan.
Dalam interaksi antara seseorang dengan lingkungannya, keyakinan manusia, idea dan kompetensi kognitif akan dimodifikasi dan diubah oleh berbagai rupa faktor eksternal. Contoh contoh faktor eksternal ini misalnya adalah orang tua yang memberikan dukungan, lingkungan yang penuh dengan stress atau bisa juga seperti udara yang panas dan berdebu atau ilkim yang dingin. (Baca juga : Psikologi Warna)
Demikian juga halnya dalam interaksi antara seseorang dengan perilaku. Dalam hal ini, proses kognitif seseorang akan mempengaruhi perilakunya. Dmikian pula halnya adalah kinerja dari perilaku yang demikian akan mengubah bagaimana cara seseorang berpikir.
Pada akhirnya adalah interaksi antara lingkungan dengan perilaku. Faktor eksternal dapat mengubah bagaimana seseorang berperilaku. Demikian juga sebaliknya, perilaku seseorang juga dapat mempengaruhi dan memberikan perubahan terhadap lingkungan yang berada di sekitarnya.
Dengan demikian maka model ini secara jelas mengimplikasikan bahwa agar proses belajar yang efektif dan mendorong k earah yang positif dapat terjadi, maka suatu individu seharusnya memiliki karakteristik personal yang bersifat positif, menunjukkan perilaku yang semestinya dan juga berada di dalam lingkungan yang memberikan dukungan.
Sebagai tambahannya, teori kognitif sosial menyebutkan bahwa pengalaman baru harus dievaluasi oleh suatu individu yang berada dalam tahap belajar dengan menggunakan metode untuk melakukan analisa perbandingan terhadap pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Perlu diingat bahwa pengalaman yang pernah dialamu sebelumnya yang digunakan dalam analisa ini harus memiliki determinan yang sama.
Oleh karena itu, maka menurut teori kognitif sosial, proses pembelajaran sendiri merupakan hasil dari evaluasi yang seksama dan mendalam terhadap pengalaman yang dialami sekarang ini dibandingkan dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya
Teori belajar kognitif muncul dilatarbelakangi oleh ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan-penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar, sebagaimana dikemukakan oleh teori Behavior, yang menekankan pada hubungan stimulus-respons- reinforcement. Munculnya teori kognitif merupakan wujud nyata dari kritik terhadap teori Behavior yang dianggap terlalu naïf, sederhana, tidak masuk akal dan sulit dipertanggungjawabkan secara psikologis.Menurut paham kognitif, tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward (ganjaran) dan reinforcement (penguatan). Tingkahlaku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan untuk mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkahlaku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh pemahaman atau insight untuk pemecahan masalah. Paham kognitifis berpandangan bahwa, tingkahlaku seseorang sangat tergantung pada pemahaman atau insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi.
Menurut teori kognitif, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.Proses ini tidak berjalan secara terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung dan menyeluruh. Ibarat seseorang yang memainkan alat musik, orang tidak akan bisa alat memainkan musik tanpa memahami terlebih not-not balok yang terpampang pada portitur sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tetapi sebagai satu kesatuan yang secara utuh masuk pikiran dan perasaannya.
Dalam praktik, teori ini terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan“ yang diusulkan oleh Jean Piaget, “belajar bermakna” oleh Ausubel, dan “belajar penemuan” (Discovery Learning) oleh Jerome Bruner, belajar pemahaman (insight) dan sebagainya. Kesemuanya itu akan dibahas dalam makalah ini dengan menggunakan pendekatan library research dengan teknik study dokumentasi. Maksudnya adalah data berkaitan dengan teori kognitif dikumpulkan dari buku-buku, jurnal dan karya iilmiah dan sebagainya. Kemudian dianalisis dengan pendekatan reflektif thinking, yaitu kombinasi antara pendekatan induksi dan deduksi.
B. TEORI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MULTIMEDIA
Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa dan menciptkan proses pembelajaran yang lebih bermakna. Pembelajaran yang bermakna didefinisikan sebagai pemahaman yang mendalam mengenai suatu materi, proses pengaturan mental yang dikaitkan secara masuk akal dengan struktur kognitif dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Pembelajaran bermakna menggambarkan kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui pada situasi dan kondisi yang nyata, baru dan berbeda (Mayer dan Moreno, 2003).
Pembelajaran bermakna memerlukan peran serta siswa dalam proses kognitif selama pembelajaran berlangsung, tetapi kapasitas siswa dalam menggunakan proses kognitifnya memiliki keterbatasan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus menciptakan rekognisi melalui penggunaan multimedia, penggunaan multimedia pembelajaran memiliki sensitifitas terhadap beban proses kognitif siswa selama pembelajaran (Clark ; Sweller ; vanMerrinboer dalam Mayer dan Moreno, 2003). Kondisi tersebut menunjukkan adanya interaksi antara multimedia dan proses kognitif selama proses pembelajaran berlangsung, interaksi tersebut dikenal dengan model teori kognitif multimedia pembelajaran yang dikembangkan oleh Mayer.
Mayer mengemukakan teori pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi, yakni:
1. Asumsi dual kanal, yang menyatakan bahwa manusia menggunakan kanal pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik melalui kanal visual maupun melalui kanal auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur ( speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua. kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2. Asumsi keterbatasan kapasitas, yang menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dsb) dan beberapa informasi tutur (auditif ). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahawa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu saat.
3. Asumsi pemprosesan aktif, yang menyatakan bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk mengkonstruksi gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak seperti tape recorder yang secara pasif merekam informasi melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya
DAFTAR RUJUKAN
University Press
Ratna Wilis Dahar, 1988, Teori-teori Belajar, Jakarta: Direktorat P dan K Santrock, J.W, 2004, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta, Erlangga
Sjarkawi, 2006, Pembentukan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, Jakarta: Bumi Aksara
Slameto, 1995, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta
S. Nasution, 2010, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar , Jakarta: Bumi Aksara
___________, 1999, Didaktik Asas-asas Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara
Slaven, Robert. E, 2011, Educational Psycology: Theory and Practice. (America: The United States of America)
Sumardi Suryabrata, 2006, Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...
BalasHapusSebuah ulasan yang cukup lengkap dalam membahas teori kognitif khususnya teori kognitif multimedia pembelajaran.
Adapun yang tak kalah menarik dari teori ini adalah
pada teori ini terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelajaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer, 2011).
Salah satunya adalah Multimedia principle yang merupakan teori yang dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Ia mengatakan bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya.
Telah banyak studi yang dilakukan dan membuktikan bahwasanya teori ini valid dan terus berkembang saat ini. Selama lebih dari satu dekade, Mayer telah meneliti bagaimana peserta didik melakukan proses pembelajaran dan mencari cara terbaik untuk menstimulus kedua saluran tersebut, auditori dan visual. Dia melakukan sebelas penelitian untuk membandingkan peserta didik yang mana yang melakukan proses pembelajaran dengan baik, dibandingkan antara yang menggunakan animasi dan narasi atau yang menggunakan teks dan ilustrasi dengan yang menggunakan teks saja. Seluruh penelitiannya menyatakan para peserta didik yang belajar dengan grafik dan teks bisa menjawab pertanyaan mengenai proses lebih baik dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks saja.
Luarrr Biasa...
Salam Pembelajaran Multimedia.. Tetap Semangat
Assalamu'alaikum Warahhmatullahi Wabarakatuh...
Hapussalam literasi..
terimakasih atas tanggapan saudari adhita
wawasan saya menjadi bertambah ketika melihat tulisan di atas yang sangat menginspirasi tentang Richard Mayer. Ia mengatakan bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya...
Assalamu'alaikum Warahhmatullahi Wabarakatuh...Pemaparan yang menarik dan lengkap, CTML menganalisis bahwa setiap Pembelajar mempunyai kapasitas kemampuan berfikir secara kognitif namun hal ini akan lebih optimal dengan dengan tampilan gambar-gambar tidak hanya kata-kata saja...dan CTML ini masih relevan untuk di gunakan dan dikombinasikan dg teknik dan metode pembelajaran lainnya karena Fleksibel dan asumsi dasar relevan dan memungkinkan untuk pengembangan-pengembangan dengan model-model pembelajaran yang lainnya, sehingga sejak Teori ini dipopulerkan oelh Mayers sampai saat ini, teorinya masih terus digunakan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dari pembelajar berdasrkan hasil analisis yang tepah dilakukan....Terima Kasih..Salam Pejuang Ilmu...😊
BalasHapusAssalamu'alaikum Warahhmatullahi Wabarakatuh...
HapusCTML ini masih relevan untuk di gunakan dan dikombinasikan dg teknik dan metode pembelajaran lainnya karena Fleksibel dan asumsi dasar relevan dan memungkinkan untuk pengembangan-pengembangan dengan model-model pembelajaran yang lainnya, sehingga sejak Teori ini dipopulerkan oelh Mayers sampai saat ini, teorinya masih terus digunakan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dari pembelajar berdasrkan hasil analisis yang tepah dilakukan.
assalamu'alaikum. bu nurhasanah, terimakasih atas tulisannya mengenai landasan TIK dalam pembelajaran jarak jauh. selama ini kkita selalu menghadapii pembelajaran secara klasikal dan konvensional, bahkan jarang sekali kita melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh.
BalasHapusapalagi dengan adanya sistem zonasi, sepertinya lebih memudahkan guru untuk memberikan materi pembelajaran secara klasikal dan tatap muka langsuung. namun apakah dengan proses pembelajaran jarak jauh ini mampu menghasilkan target yang akan kita capai?
misalnyya, dalam pembelajaran tatap muka secara langsung, sisiwa bisa menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru. dan penilaian22 pun lebih muda=h dilaksanakn.
sedangkan dalam epmbelajaran jarak jauh, apakah peserta didik mampu mendapatkan materi pelajaran dan bisa mencapai target pembelajaran seperti yang kita dalapkan layajnya peserta didik ddi sekolah reguler.
Selamat pagi menjelang siang....
BalasHapusTerima kasih atas tulisan tentang landasan TIK dalam pembelajaran jarak jauh. Menurut penulis apakah akan maksimal hasilnya jika seorang guru yang gaya belajarnya visual tapi harus mengajarkan ke siswanya dengan gaya auditori dan kinestetik?
salam literasi..
Hapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan dari sdri. Nurul Hasanah, Hasil yang maksimal akan diperoleh apabila ada synergy antara gaya belajar dari guru dengan gaya belajar peserta didik, guru adalah figur yang menjadi contoh suri teladan bagi peserta didik..