Jumat, 18 Oktober 2019

E-LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF PEMBELAJARAN MODERN


E-LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF PEMBELAJARAN MODERN

Perkembangan teknologi informasi saat ini telah menjalar dan memasuki setiap dimensi aspek kehidupan manusia. Teknolgi informasi saat ini memainkan peran yang besar didalam kegiatan bisnis, perubahan sturktur organisasi, dan mannajemen organisasi. Dilain pihak, teknologi informasi juga memberikan peranan yang besar dalam pengembangan keilmuan dan menjadi sarana utama dalam suatu institusi akademik. Teknologi internet hadir sebagai media yang multifungsi. Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara masal, yang dikenal one to many communication(misalnya mailing list). Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metoda konvensional dengan adanya aplikasi teleconference. Secara garis besar, teknologi informasi memiliki peranan : (1) dapat menggantikan peran manusia, dalam hal ini dapat melakukan otomasi terhadap tugas atau proses; (2) memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan informasi terhadap suatu tugas dan proses; (3) berperan dalam restrukturissi terhadap peran manusia, dalam melakukan perubahan-perubahan terhadap kumpulan tugas dan proses. Bahwa kehadiran internet dalam dimensi pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak, dan sudah merupakan kebutuhan. Sebagai suatu kebutuhan, maka kehadiran internet pada dasarnya sangat membantu dunia pendidikan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih kondusif dan interaktif.
Sejarah IT dan Internet tidak dapat dilepaskan dari bidang pendidikan. Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi malasah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri (digital liberary). Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam pembuatan makalah, penelitian dan tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan guru, dosen, pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir, skripsi, makalah dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.
Kerjasama antar guru, dosen, pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh untuk menemui seorang dosen untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan email atau chating. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.
Teknologi internet hadir sebagai media yang multifungsi. Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara masal, yang dikenal one to many communication(misalnya mailing list). Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metoda konvensional dengan adanya aplikasi teleconference. Berdasarkan hal tersebut, maka internet sebagai media pendidikan mampu menghadapkan karakteristik yang khas, yaitu : (a). sebagai media interpersonal dan massa (b) bersifat interaktif (c). memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun asinkron.
Karakteristik ini memungkinkan pelajar melakukan komunikasi dengan sumber ilmu secara lebih luas bila dibandingkan dengan hanya menggunakan media konvensional. Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Metoda talk dan chalk, dapat dimodifikasi dalam bentuk komunikasi melalui e-mail, mailing list, dan chatting.
Berikut adalah beberapa manfaat penggunaan teknologi informasi : (a)arus informasi tetap mengalir setiap waktu tanpa ada batasan waktu dan tempat (b)kemudahan mendapatkan resource yang lengkap (c) aktifitas pembelajaran pelajar meningkat (d) daya tampung meningkat (e) adanya standardisasi pembelajaran (f)meningkatkan learning outcomes baik kuantitas/kualitas.
Peran media internet (tentu saja media komputer yang menjadi perangkat utamanya) semakin meningkat pesat dari waktu ke waktu. Maka diperkirakan mesin jenius ini akan menjadi kebutuhan dominan yang tak terlupakan dalam kehidupan manusia pada masa-masa mendatang. Di dunia serba digital saat ini, internet bagi manusia, meluncur dan tumbuh subur menjadi sebuah kebutuhan. Internet memang memudahkan pelajar mendapatkan segala informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan (pelajaran). Tapi pada internet juga terdapat liang raksasa, bagai rahang yang akan mengunyah para pelajar dengan situs-situs pornografi, kekerasan, dan hal-hal negatif lainnya. Meskipun dalam diri mereka terjadi tarik menarik yang dahsyat antara kepentingan yang baik (positif) dengan buruk (negatif). Namun pada akhirnya, kekuatan negatif cenderung lebih bertaring untuk mencengkram cara berpikir dan berprilaku para remaja tersebut. Maka untuk menghempangnya (paling tidak untuk meminimalisirnya), usaha untuk memaksimalkan manfaat internet sebagai media pendidikan harus lebih dilakukan Apalagi muaranya. hendak meningkatkan mutu pendidikan sekaligus mutu pendidik dan anak didik.
Sebenarnya beberapa pusat pendidikan termasuk sekolah lanjutan tingkat atas sampai perguruan tinggi saat ini begitu serius memaksimalkan pengadaan fasilitas internet di sekolah dan kampus masing-masing untuk meningkat mutu pendidikan. Dari beberapa sekolah dan universitas sudah ada yang membuka website untuk memberikan kemudahan bagi khalayak untuk mengakses informasi tentang sekolah dan universitas yang bersangkutan.
Mengacu pada paparan diatas, tentunya peranan teknologi informasi terkhususnya internet tidak dapat disangkal dan telah memberikan kontribusi yang besar. Roy suryo (2005), telah memberikan gambaran kepada kita bagaimana teknologi informasi telah memainkan peranan yang penting dalam suatu komunikasi informasi.

Dewasa ini semakin bertambah banyak jumlah perguruan tinggi di berbagai negara yang menyajikan materi perkuliahan secara elektronik, baik sebagai pelengkap maupun pengganti pembelajaran tatap muka. Beberapa perguruan tinggi menyeleng- garakan kegiatan pembelajaran elektronik sebagai suplemen (tambahan) terhadap materi pelajaran yang disajikan secara reguler di kelas (Wildavsky, 2001; Lewis, 2002). Namun, beberapa perguruan tinggi lainnya menyelenggarakan E-Learning se- bagai alternativebagi mahasiswa yang berhalangan mengikuti perkuliahan secara tatap muka. Dalam kaitan ini, E-Learning berfungsi sebagai pilihan (option) bagi mahasiswa.
Beberapa perguruan tinggi di luar negeri, misalnya Kanada, telah menjadikan pembelajaran ele- ktronik sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Artinya, selur- uh kegiatan perkuliahan diikuti oleh mahasiswa melalui pemanfaatan internet, mulai dari pendaftaran diri, untuk mengikuti kuliah, konsultasi akademik, penyelesaian tugas-tugas, sampai dengan eva- luasi kegiatan belajar mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat memilih apakah akan mengi- kuti kegiatan kuliah secara tatap muka, secara online, atau perpaduan keduanya. Masing-masing pilihan ini dihargai sama secara akademik.
Kecenderungan untuk mengembangkan E- Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Infrastruktur di bidang telekomunikasi yang menunjang penyelenggaraan E-Learning tidak lagi menjadi monopoli kota-kota besar, tetapi secara bertahap sudah mulai dapat dinikmati oleh mereka yang berada di kota-kota tingkat kabupaten. Artinya, masyarakat yang berada di kabupaten telah dapat “berinternet ria”.
Di samping peningkatan infrastruktur pada bidang telekomunikasi, baik ketersediaan dan ca- kupan maupun kualitasnya, lembaga pendidikan dan pelatihan, terutama lembaga pendidikan tinggi, tampak terus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas yang memungkinkan para civitas acade- mica memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang tersedia untuk menunjang peningkatan kua- litas pembelajaran dan pemberian layananan kepa- da mahasiswa. Berbagai fasilitas yang dimaksud antara lain adalah berupa pengadaan perangkat komputer (lab komputer), koneksi ke internet (in- ternet connectivity), pengembangan website, pengembangan Local Area Network (LAN), dan pe- ngembangan intranet.
Pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia se- makin kondusif dengan diterbitkannya Surat Kepu- tusan Menteri Departemen Pendidikan Nasional tahun 2001 yang mendorong perguruan tinggi kon- enional untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (dual mode). Dengan iklim yang kondusif ini, beberapa perguruan tinggi telah melakukan berbagai persiapan, seperti penugasan para dosen untuk
(a) mengikuti pelatihan tentang pengembangan ba- an belajar elektronik, (b) mengidentifikasi berbagai platform pembelajaran elektronik yang tersedia, dan (c) melakukan eksperimen tentang penggunaan platform pembelajaran elektronik tertentu untuk menyajikan materi perkuliahan.
Melalui kegiatan pembelajaran elektronik, siswa dapat berkomunikasi dengan guru kapan sa- a, yaitu melalui e-mail. Demikian juga sebaliknya. Sifat komunikasi bisa tertutup antara satu siswa de- gan guru atau bahkan bersama-sama melalui papan buletin. Komunikasi juga bisa dipilih, mau secara serentak atau tidak (Soekartawi, 2002). Melalui E- Learn-ing, para siswa/mahasiswa dimungkinkan untuk tetap dapat belajar sekalipun tidak hadir se- cara fisik di dalam kelas. Kegiatan belajar menjadi sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan waktu para siswa/mahasiswa. Kegia- tan pembelajaran terjadi melalui interaksi siswa/ mahasiswa dengan sumber belajar yang tersedia dan dapat diakses dari internet.
Sehubungan dengan beberapa hal yang telah diuraikan di atas, tulisan ini akan mencoba meng- kaji tentang penyelenggaraan E-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran. Tulisan ini diha- rapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi lem- baga-lembaga pendidikan atau pelatihan dalam me- rencanakan penyelenggaraan kegiatan pembelajar- an melalui media elektronik. Karena itu, di dalam artikel ini dibahas antara lain pengertian tentang E- Learning, fungsi pembelajaran elektronik, manfaat pembelajaran elektronik, dan penyelenggaraan pembelajaran elektronik.

APAKAHE-LEARNING ITU?

Pembelajaran elektronik atau E-Learning te- lah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wil- son, 2001). Berbagai istilah digunakan untuk me- ngemukakan gagasan tentang pembelajaran elek-
tronik, antara lain adalah: online learninginternet- enabled learningvirtual learning, atau web-based learning. Dalam kaitan ini, yang diperlukan adalah kejelasan tentang kegiatan belajar yang bagaimana- kah yang dapat dikatakan sebagai E-Learning? Apakah seseorang yang menggunakan komputer dalam kegiatan belajarnya dan melakukan akses berbagai informasi (materi pembelajaran) dari In- ternet, dapat dikatakan telah melakukan E-Learn- ing?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, ilustrasi berikut ini mungkin akan dapat membantu memperjelas pengertian E-Learning (Newsletter of ODLQC, 2001). Ada seseorang yang membawa laptop ke sebuah tempat yang berada jauh di gu- gusan kepulauan kecil yang terpencil. Dari tempat yang sangat terpencil ini, orang tersebut mulai menggunakan laptopnya dan melakukan akses ter- hadap berbagai materi program pelatihan yang ter- sedia. Tidak ada layanan bantuan belajar dari tutor maupun dukungan layanan belajar bentuk lainnya. Dalam konteks ini, apakah orang tersebut dapat di- katakan telah melaksanakan E-Learning? Jawab- annya adalah tidak. Mengapa? Karena yang ber- sangkutan di dalam kegiatan pembelajaran yang di- lakukannya tidak memperoleh layanan bantuan be- lajar dari tutor maupun layanan bantuan belajar la- innya. Bagaimana kalau yang bersangkutan mem- punyai telepon genggam dan kemudian berhasil menggunakannya untuk menghubungi seorang tu- tor? Apakah dalam konteks yang demikian ini da- pat dikatakan bahwa yang bersangkutan telah me- laksanakan E-Learning? Jawabannya adalah ya.
Dari ilustrasi tersebut di atas, setidak-tidak- nya dapat ditarik tiga hal penting sebagai persya- ratan kegiatan E-Learning, yaitu: (a) kegiatan pem- belajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (“jaringan” dalam uraian ini dibatasi pada penggu- naan internet, jaringan dapat saja mencakup LAN atau Website eLearners.com/WAN), (b) tersedia- nya dukungan layanan belajar yang dapat diman- faatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM, atau bahan cetak, dan (c) tersedianya dukungan la- yanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan.
Di samping ketiga persyaratan tersebut di atas masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya: (a) lembaga yang menyelenggara- kan kegiatan E-Learning, (b) sikap positif dari peserta didik dan tenaga kependidikan terhadap tek- nologi komputer dan internet, (c) rancangan sistem pembelajaran yang dapat diketahui oleh setiap pe- serta belajar,             (d) sistem evaluasi terhadap kemaju- an atau perkembangan belajar peserta belajar, dan        (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Dengan demikian, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (E- Learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) se- bagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan bela- jar lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001). Dalam uraian lebih lanjut, istilah “E-Learning”, “online learning” atau “pembelajaran elektronik” akan di- gunakan secara bergantian namun tetap dengan pe- ngertian yang sama seperti yang telah dikemuka- kan.

APA FUNGSI E-LEARNING?

Setidaknya ada tiga fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai tambahan (suplemen) yang sifatnya opsional, pe- lengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002).
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apa- bila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada ke- wajiban bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsio- nal, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawa- san.
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen, apabila materi pembelajaran elektronik diprogram- kan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi pengayaan (reinforcement) atau remedial bagi pe- serta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelaja- ran konvensional. Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada pe- serta didik yang dapat dengan cepat menguasai ma- teri pelajaran yang disampaikan guru secara tatap
muka (fast learner) diberikan kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mere- ka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan guru di dalam kelas. Sedangkan se- bagai program remedial, apabila kepada peserta di- dik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk me- reka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.
Dikatakan subtitusi, apabila perguruan tinggi atau sekolah memberikan beberapa alternatif mo- del kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuli- ahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain se- hari-hari mahasiswa. Ada tiga alternatif model ke- giatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta di- dik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (kon- vensional), (2) sebagian secara tatap muka dan se- bagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepe- nuhnya melalui internet.
Alternatif model pembelajaran mana pun yang akan dipilih mahasiswa tidak menjadi masa- lah dalam penilaian. Karena ketiga model penyaji- an materi perkuliahan mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Jika mahasiswa dapat menyelesaikan program perkuliahannya dan lulus melalui cara konvensional atau sepenuhnya melalui internet, atau bahkan melalui perpaduan kedua mo- del ini, maka institusi penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel ini dinilai sangat membantu mahasiswa untuk mempercepat penyelesaian per- kuliahannya.


APA MANFAAT E-LEARNING?

E-Learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. De- mikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peser- ta didik. Peserta didik dapat saling berbagi infor- masi atau pendapat mengenai berbagai hal yangmenyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengem- bangan diri peserta didik. Guru atau instruktur da- pat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas- tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru/ instruktur dapat pula memberikan kesempatan ke- pada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002).
Secara lebih rinci, manfaat E-Learning da- pat dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru. Dilihat dari peserta didik, kegiatan E-Learningdimungkinkan berkembang suatu flek- sibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat ber- komunikasi dengan guru/dosen setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat le- bih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran. Hal ini akan terbukti manakala fasi- litas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecama- tan dan pedesaan, maka kegiatan E-Learningakan memberikan manfaat (Brown, 2000) kepada peser- ta didik yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelaja- ran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh seko- lahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schooling) untuk mempelajari ma- teri pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orangtuanya, seperti bahasa asing dan ketera- mpilan di bidang komputer, (3) merasa phobia de- ngan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidi- kan.
Dilihat dari sudut guru, kegiatan E-Learn- ing (Soekartawi, 2002a,b), memiliki beberapa man- faat yang diperoleh guru/dosen/instruktur antara lain adalah bahwa guru/dosen/ instruktur dapat: (1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-ba- han belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, (2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak, (3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru/dosen/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang, (4) mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan (5) memeriksa jawaban peserta didik dan memberita- hukan hasilnya kepada peserta didik.
Pengetahuan dan keterampilan untuk pe- ngembangan bahan belajar elektronik ini perlu di- kuasai terlebih dahulu oleh guru/dosen/instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektro- nik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari guru/dosen/instruktur yang akan memantau per- kembangan kegiatan belajar peserta didiknya dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya. Sedangkan manfaat pembelajaran elek- tronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas empat  hal, yaitu:
1.     Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran an- tara peserta didik dengan guru atau instruktur (en- hance interactivity). Apabila dirancang secara cer- mat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar. Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk me- ngajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pen- dapatnya di dalam diskusi. Mengapa? Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesem- patan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/ instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sa- ngat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa pe- serta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembe- lajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).                         (2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility). Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan in- teraksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga de- ngan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat di- serahkan kepada guru/dosen/instruktur begitu sele- sai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur.
Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbu- ka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet un- tuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang dise- but sebagai “tutorial elektronik” (Anggoro, 2001).
(3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). De- ngan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui ke- giatan pembelajaran elektronik semakin lebih ba- nyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Inte- raksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan. (4) Mem- permudah penyempurnaan dan penyimpanan mate- ri pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elek- tronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilaku- kan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembela- jaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil  penilaian  guru/dosen/instruktur  selaku penanggung jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri. (5) Penghematan jumlah pengajar dan peningkatan jumlah maksimal siswa. Permasalahan jumlah tenaga pengajar yang memadai merupakan masalah klasik yang tidak pernah terselesaikan. Penggunaan E-Learning akan menghemat jumlah pengajar yang diperlukan namun akan memperluas jumlah siswa yang dapat ditampung ditampung da- lam sebuah kelas. Dengan penghematan ini, diha- rapkan dunia pendidikan dapat lebih berkonsentrasi pada peningkatan kualitas pendidikan, dan tidak lagi mengejar kuantitas pengajar saja. (6) Penghe- matan biaya pembangunan. Biaya untuk memba- ngun sebuah gedung sekolah dapat dikurangi sam- pai beberapa puluh kali lipat lebih rendah, di sam- ping itu biaya pengadaan prasarana tambahan lain juga dapat ditiadakan.

SASARAN KEGIATAN E-LEARNING

Kegiatan E-Learning lebih bersifat demo- kratis dibandingkan dengan kegiatan belajar pada pendidikan konvensional. Mengapa? Peserta didik memiliki kebebasan dan tidak merasa khawatir atau ragu-ragu maupun takut, baik untuk menga- jukan pertanyaan maupun menyampaikan penda- pat/tanggapan karena tidak ada peserta belajar lain- nya yang secara fisik langsung mengamati dan ke- mungkinan akan memberikan komentar, meremeh- kan atau mencemoohkan pertanyaan maupun per- nyataannya (Loftus, 2001).
Profil peserta E-Learning adalah seseorang yang (1) mempunyai motivasi belajar mandiri yang tinggi dan memiliki komitmen untuk belajar secara sungguh-sungguh karena tanggung jawab belajar sepenuhnya berada pada diri peserta belajar itu sendiri (Loftus, 2001), (2) senang belajar dan mela- kukan kajian-kajian, gemar membaca demi pe- ngembangan diri secara terus-menerus, dan yang menyenangi kebebasan, (3) mengalami kegagalan dalam mata pelajaran tertentu di sekolah konven- sional dan membutuhkan penggantinya, atau yang membutuhkan materi pelajaran tertentu yang tidak disajikan oleh sekolah konvensional setempat mau- pun yang ingin mempercepat kelulusannya sehing- ga mengambil beberapa mata pelajaran lainnya me- lalui E-Learning, serta yang terpaksa tidak dapat meninggalkan rumah karena berbagai pertimbang- an (Tucker, 2000).





PERANGKATE-LEARNING

Pada sistem pendidikan jarak jauh diperlukan suatu media sebagai tempat pemusatan pe- ngetahuan atau knowledge. Dimana peserta didik dapat melakukan diskusi dengan peserta didik lain- nya maupun langsung mengajukan pertanyaan ke- pada pengajar. Media ini dirancang sedemikian hingga proses pengumpulan pengetahuan ini dapat ditangani secara otomatis (sedapat mungkin me- ngurangi beban operator sistem) dan pengguna sis- tem dapat memperoleh informasi terakhir tentang kumpulan pengetahuan tersebut secara dinamis. Sistem perkuliahan jarak jauh di Universitas Negeri Gorontalo masih dalam tahap perencanaan dan diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pe- merataan kesempatan pendidikan. Sistem pendidik- an jarak jauh memiliki aliran informasi sebagaima- na terlihat pada gambar di bawah ini. Dengan de- mikian diperlukan suatu metoda untuk memung- kinkan informasi-informasi baik yang berasal pe- ngajar maupun dari peserta didik dapat diatur seca- ra otomatis (meminimalkan tugas operator). Dan aplikasi tersebut cukup membutuhkan web browser untuk menjalankannya. Adapun arsitektur aplikasi manajemen dokumen tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini. 
Manfaat Pembelajaran Elektronik Learning
Manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 3 hal, yaitu:
a. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).
Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi.
Mengapa? Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).
b. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan.
Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur. Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka telah memanfaatkan internet sebagai metode / media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai tutorial elektronika (Anggoro, 2001).


Description: https://lh6.googleusercontent.com/W5gBu8XsSGikXbyPA4WDaHPErMqp8gUujeCyoegabqqOkIq-A6eqPSi-z04Wlg5as8puCikxLVwIzZw7TOA7felS18RykLwVByF_DxI2KYtG9Zg0JU5bV3sQG-alurr5_YKEiFXUpteerLnMpA



Tugas-tugas otomatisasi yang dapat dilakukan dengan bantuan aplikasi ini adalah: (1) pemasukan informasi pengumuman oleh pengajar, (2) pengiriman file-file tugas kuliah (file uploading), dan (3) autentifikasi pengguna situs web
Server database yang diimplementasikan dalam aplikasi ini adalah MySQL yang memiliki kemampuan untuk menerima beberapa query sekaligus dalam waktu simultan sehingga aplikasi ini dapat digunakan oleh banyak orang sekaligus pada waktu yang bersamaan. Antarmuka antara server web dan server database dilakukan dengan meng- gunakan teknologi script, yakni menggunakan PHP. Script ini selain mengatur informasi-infor- masi yang akan disimpan ke dalam database juga mengatur penempatan file-file dalam lokasi penyimpanan file. Penampilan lokasi file-file secara otomatis juga dimungkinkan dengan penggunaan PHP script ini. lokasi ini selalu diperbaharui secara otomatis setiap kali ada penambahan atau pengurangan jumlah file. Pada server web perlu di- tambahkan modul pelengkap PHP sebelum meng- gunakan PHP script ini.
Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.
c. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah.
Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri. Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar peserta didiknya dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya.

Karakteristik Pendidikan Jarak Jauh:
Sistem pendidikan jarak jauh adalah metode pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Sebagian besar karena siswa bertempat tinggal jauh atau terpisah dari lokasi lembaga pendidikan. Sebagian karena alasan sibuk sehingga siswa yang tinggalnya dekat dari lokasi lembaga pendidikan tidak dapat mengikuti proses pembelajaran di lembaga tersebut. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh. Sistem pendidikan jarak jauh merupakan suatu alternatif pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat beberapa diantaranya; keterbatasan tenaga pengajar, jarak antara lembaga pendidikan dan siswa yang berjauhan, kelangkaan pengajar berkualitas, dan lain lain.
Sebagaimana sistem pendidikan langsung atau konvensional, sistem pendidikan jarak jauh juga membutuhkan sarana prasarana penunjang pendidikan, agar tujuan umum pendidikan bisa diwujukan sesuai dengan jenjang pendidikannya. Sarana penunjang biasanya berupa modul-modul pelajaran yang dikirim kepada siswa. Sarana bisa juga berbasis teknologi informasi. Munculnya teknologi informasi dan komunikasi pada pendidikan jarak jauh ini sangat membantu sekali. Seperti dapat dilihat, dengan munculnya berbagai pendidikan secara onlineatau web-schoolatau cyber-school, dengan menggunakan fasilitas internet. Pendekatan sistem pengajaran yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengajaran secara langsung (real time) ataupun dengan cara menggunakan sistem sebagai tempat pemusatan pengetahuan (knowledge). Hal ini memungkinkan terbentuknya kesempatan bagi siapa saja untuk mengikuti berbagai jenjang pendidikan sejak taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT). Tidak seperti sistem pendidikan langsung, sistem pendidikan jarak jauh membutuhkan pengelolaan dan manajemen pendidikan yang “khusus”, baik dari sisi siswa maupun instruktur (guru) agar tujuan pendidikan bisa terwujud. Pendidikan harus fokus pada kebutuhan instruksional siswa.
Dari sisi instruktur (guru), beberapa faktor yang penting untuk keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh adalah perhatian, percaya diri guru, pengalaman, mudah menggunakan perlatan, kreatifitas, active learning, dan kemampuan menjalin interkasi dan komunikasi jarak jauh dengan siswa. Juga memperhatikan hambatan teknis yang mungkin terjadi, sehingga pendidikan jarak jauh bisa berlangsung efektif.
Dari sisi siswa, salah satu faktor yang penting adalah keseriusan mengikuti proses belajar mengajar di saat instruktur (guru) tidak berhadapan langsung dengan siswa. Pada level ini, keterlibatan dan kehadiran ‘orang-orang’ di sekitar, termasuk anggota keluarga memegang peranan penting dan strategis. Kehadirannya bisa mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar secara efektif, tapi sebaliknya bisa juga menjadi penghambat. Faktor yang lainnya adalah active learning dan komunikasi yang efektif. Partisipasi aktif siswa pendidikan jarak jauh mempengaruhi cara bagaimana mereka berhubungan dengan materi yang akan dipelajari.
Keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh ditunjang oleh adanya interaksi dan komunikasi yang efektif dan maksimal antara intstruktur (guru) dan siswa, interaksi antara siswa dengan berbagai fasilitas pendidikan seperti mudul-modul pendidikan interaksi antara siswa dengan ‘orang-orang’ sekitarnya, dan adanya pola pendidikan aktif dalam masing-masing interaksi tersebut. Juga keaktifan dan kemandirian siswa dalam pendalaman materi, mengerjakan soal-soal ujian, dan kreativitas mencari materi-materi penunjang dari sumber-sumber lain seperti internet atau digital-library.
Karakteristik pendidikan jarak jauh (a) Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara tenaga pengajar (guru atau dosen) dari peserta ajar (siswa atau mahasiswa) selama program pendidikan (b) Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara seorang peserta ajar (siswa atau mahasiswa) dari peserta ajar lain selama program pendidikan (c) Ada suatu institusi yang mengelola program pendidikannya dan (d) Pemanfaatan sarana komunikasi baik mekanis maupun elektronis untuk menyampaikan bahan ajar, serta (f) Penyediaan sarana komunikasi dua arah sehingga peserta ajar dapat mengambil inisiatif dialog dan mengambil manfaatnya.
Keuntungan & manfaat(Benefit of Telecomputing for students) dari pendidikan jarak jauh dengan pemanfaatan internet sebagai media pendidikan (a) Real-time & on-demands online information, (b) Mobility access, fleksibel dan praktis (dapat dilaksanakan kapan saja sesui keinginan kita), (c) Menjangkau wilayah geografis yang luas, (d) User friendly, bebas repot dan ruwet, (e) Benefit in cost, mengurangi (menghemat) biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku, perjalanan, pengadaan pendidikan dll), (f) Mengoptimalkan kualitas belajar, (g)Less administrative papers, (h) Dapat melengkapi aktivitas belajar konvensional, (i) Cara belajar yang aman dan sehat, (j) Alternatif media belajar dari anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua, belajar fleksibel tanpa terikat jadwal + menyenangkan, (k) Melatih pembelajar lebih mandiri dan berkembang dalam ilmu dan pengetahuan, (l) Fleksibel memilih materi yang benar-benar kita inginkan dan hanya yang kita butuhkan, dan (m) Source ilmu daninformasi yang tidak terbatas (bahkan berlimpah), sehingga kuncinya bukan mendapatkan kesemuanya namun filtering yang kita butuhkan saja serta Menghemat waktu proses belajar mengajar

Media pembelajaran berbasis komputer dan Internet
Definisi media pembelajaran.Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan (Criticos, 1996). Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Seperti yang dirilis oleh pustekom denganhttp://www.e-dukasi.net/berikut:
Pengembangan media pembelajaran hendaknya diupayakan untuk memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh media tersebut dan berusaha menghindari hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam proses pembelajaran. Secara rinci, fungsi media dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut. (a). Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film, video, atau media yang lain, siswa dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang benda/peristiwa sejarah. (b) Mengamati benda/peristiwa yang sukar dikunjungi, baik karena jaraknya jauh, berba­haya, atau terlarang. Misalnya, video tentang kehidupan harimau di hutan, keadaan dan kesibukan di pusat reaktor nuklir, dan sebagainya. (c) Memperoleh gambaran yang jelas tentang benda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena ukurannya yang tidak memungkinkan, baik karena terlalu besar atau terlalu kecil. Misalnya dengan perantaraan paket siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bendungan dan kompleks pembangkit listrik, dengan slide dan film siswa memperoleh gambaran tentang bakteri, amuba, dan sebaginya. (d) Mendengar suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung. Misalnya, rekaman suara denyut jantung dan sebagainya. (e) Mengamati dengan teliti binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena sukar ditangkap. Dengan bantuan gambar, potret, slide, film atau video siswa dapat mengamati berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar, dan sebagainya. (f) Mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau berbahaya untuk didekati. Dengan slide, film, atau video siswa dapat mengamati pelangi, gunung meletus, pertempuran, dan sebagainya.
Perangkat media pembelajaran.Yang termasuk perangkat media adalah: material, equipment, hardware, dan software. Istilah materialberkaitan erat dengan istilah equipment dan istilah hardware berhubungan dengan istilah software. Material (bahan media) adalah sesuatu yang dapat dipakai untuk menyimpan pesan yang akan disampaikan kepada auidien dengan menggunakan peralatan tertentu atau wujud bendanya sendiri, seperti transparansi untuk perangkat overhead, film, filmstrip, dan film slide, gambar, grafik, dan bahan cetak. Sedangkan equipment (peralatan) ialah sesuatu yang dipakai untuk memindahkan atau menyampaikan sesuatu yang disimpan oleh material kepada audien, misalnya proyektor film slide, video tape recorder, papan tempel, papan flanel, dan sebagainya.
Peningkatan kemampuan dan kesadaran guru untuk mengenal dan menguasi teknologi informasi termasuk penggunaan komputer tentunya hal yang positif sekaligus membanggakan dan mengisaratkan 'peningkatan mutu' dengan membuat media pembelajaran berbasis komputer sehingga lebih menarik, komunikatif, adaptif dan yang paling prinsip dapat mengubungkan anak didik pada pemahaman yang nyata dan bermakna.
Perkembangan teknologi komonikasi dan informasi telah membuka kemungkinan yang luas untukdapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan. Hal ini disebabkan pesatnya teknologi komonikasi dan informasi yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia.
Salah satu kebijakan yang dikeluarkan dan bisa dijadikan landasan dalam pendayagunaan ICT untuk pendidikan ialah Action Plan for the Development and Implementation of Information And Communication Technologies(ICT) inIndonesia.
Action plan berisirencana pelaksanaan pendayagunaan telematika dalam bidang pendidikan selama 5 tahun (2001 -2005) menekanankan pada : (a) Pengembangan dan pengimplementasikan kurikulum (b) Pendayagunaan ICT sebagai bagian dari kurikulum dan sebagai media pembelajaran disekolah atau perguruan tinggi dan diklat. (c) Mewujudkan program pendidikan jarak jauh termasuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan lembaga penyelenggara pendidikan jarak jauh di dunia. (d) Memfasilitasi pendayagunaan internet untuk meningkatkan efesiensi proses pembelajaran.
Contoh konkrit dalam pendayagunaan ICT adalah proses belajar dikelas yang menggunakan internet sebagai media pembelajaran Sebagai media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar di sekolah , internet diharapkan mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komonikasi interaktif antara guru dengan siswa. Kondisi yang perlu didukung oleh internet berkaitan dengan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan, yaitu sebagai kegiatan komonikasi yang dilakukan untuk mengajak siswa mengerjakan tugas-tugas dan membantu siswa dalam memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas tersebut. ( Boettcher 1999).
Berdasarkan paparan diatas, terlihat bagi kita bahwa teknologi informasi, khususnya internet memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap dimensi pendidikan. Internet memberikan kontribusi yang sangat besar didalam membantu setiap dimensi yang ada untuk selalu mendapatkan informasi yang up to date. Jaringan internet merupakan salah satu jenis jaringan yang popular dimanfaatkan, karena internet merupakan teknologi informasi yang mampu menghubungan komputer di seluruh dunia, sehingga memungkinkan informasi dari berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dipakai secara bersama-sama. Demikian juga dalam dunia pendidikan, berkat adanya jaringan internet, maka dapat membantu setiap penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat informasi-informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.
Pemanfaatan internet pada saat ini masih berada pada level perguruan tinggi, dan itupun belum merata. Sedangkan pada level SD sampai dengan SMU/SMK, pemanfaatan internet masih sangat minim dan terbatas pada daerah perkotaan yang sudah memiliki jaringan atau koneksi internet. Dilain pihak dalam dunia pendidikan, diperhadapkan pada kendala bahwa metode pembelajaran konvensional yang diterapkan saat ini sudah tidak memenuhi kebutuhan dunia pendidikan yang ada.
Asep Saepudin (2003), menyatakan bahwa pada jenjang dan jalur pendidikan lain di mana proses belajarnya relatif masih konvensional (tatap muka), yang sesungguhnya sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pendidikan untuk masyarakat yang semakin kompleks, memerlukan inovasi dan media yang mampu menangulanginya. Penulis berasumsi bahwa, dengan diselenggarakannya program pendidikan jarak jauh seperti Program Belajar Paket A dan Paket B, SMP Terbuka yang didirikan pada tahun 1979, Universitas Terbuka sejak tahun 1984, serta pendidikan guru tertulis pada tahun 1955, dan program pendidikan dan pelatihan jarak jauh di berbagai departemen (A.P. Hardhono, 1997), termasuk usaha menuntaskan program Wajar 9 tahun dengan memakai sistem pendidikan jarak jauh, adalah fakta bahwa pendidikan konvensional (tatap muka) tak mampu lagi memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat hampir di semua jenis dan jenjang. Keterbatasan ini dikarenakan oleh beberapa kendala, di antaranya. Pertama, kendala dari pihak pemerintah yaitu terbatasnya dana untuk menambah lahan, gaji tenaga pengajar, serta terbatasnya sumber daya manusia yang akan menjadi pengajar pada institusi yang akan dibangun. Kedua, kendala dari pihak peserta belajar (masyarakat) itu sendiri yaitu, selain jauhnya jarak tempat tinggal dengan pusat sekolah, juga sebagian besar di antara mereka telah bekerja. Berdasarkan pernyataan diatas, maka nampaklah bagi kita bahwa metode yang ada saat ini tidak lagi menjamin untuk menghasilkan kualitas sumberdaya manusia dalam dunia pendidikan. Hal ini menyebabkan perkembangan pendidikan yang ada sat ini cenderung tertinggal dibandingkan dengan Negara lainnya.
Ironisnya, guru masih sedikit sekali menggunakan media internet ini sebagai media pembelajaran, kemungkinan disebabkan kurang pahamnya guru menggoperasikan komputer, sehingga timbul rasa keminderan dalam diri seorang guru untuk mengajak siswanyabelajar dengan menggunakan media internet , padahal mau tidak mau kita tidak mungkin terhindar dari teknologi komonikasi dan informasi. Banyak hal yangdapat dilakukan seorang guru agar mampu menyesuaikan diri dalam era pembelajaran yang semakin canggih, terutama menggunakan media internet. , Kompetensi guru harus lebih ditingkatkan, misal dengan mengikuti pelatihan yang berbasis komputer, kursus-kursus, dan sekolah agar lebih tanggap untuk mengirim guru-gurunya mengikuti pelatihan pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan maupun sekolah- sekolah lain, dan memberikan kesempatan yang sama kepada guru-guru untuk dapat lebih aktif dalam mengikuti pelatihan yang berbasis komputer, serta mengadakan pelatihan komputer secara internal dilingkungan sekolah masing-masing. Bila hal itu dapat kita lakukan mudah-mudahan dapat sedikit mengurangi jumlah guru yang sangat elergi terhadap komputer, dan dapat melakukan proses belajar dikelas dengan menggunakan media internet.
Dengan fasilitas yang dimilikinya, internet menurut Onno W. Purbo (1998) paling tidak ada tiga hal dampak positif penggunaan internet dalam pendidikan yaitu: (a). Peserta didik dapat dengan mudah mengambil mata kuliah dimanapun di seluruh dunia tanpa batas institusi atau batas negara. (b) Peserta didik dapat dengan mudah berguru pada para ahli di bidang yang diminatinya. (c). Kuliah/belajar dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru dunia tanpa bergantung pada universitas/sekolah tempat si mahasiswa belajar. Di samping itu kini hadir perpustakan internet yang lebih dinamis dan bisa digunakan di seluruh jagat raya.
Pendapat ini hampir senada dengan Budi Rahardjo (2002). Menurutnya, manfaat internet bagi pendidikan adalah dapat menjadi akses kepada sumber informasi, akses kepada nara sumber, dan sebagai media kerjasama. Akses kepada sumber informasi yaitu sebagai perpustakaan on-line, sumber literatur, akses hasil-hasil penelitian, dan akses kepada materi kuliah. Akses kepada nara sumber bisa dilakukan komunikasi tanpa harus bertemu secara fisik. Sedangkan sebagai media kerjasama internet bisa menjadi media untuk melakukan penelitian bersama atau membuat semacam makalah bersama.
Internet sebagai media pendidikan memiliki banyak keunggulan,. Namun tentu saja memiliki kelemahan; seperti yang disampaikan oleh Budi Rahardjo (2002) adalah infrastruktur internet masih terbatas dan mahal, keterbatasan dana, dan budaya baca kita masih lemah. Di sinilah tantangan bagaimana mengembangkan model pembelajaran melalui internet. Dengan begitu guru- guru akan mengatakan ”Siapa takut” ketika dihadapkan pada internet yang menyimpan segala informasi dan sebagai sumber belajar siswa dan guru di dalam kelas.
Guna menjembatani ketimpangan dan kelemahan diatas, maka kehadiran teknologi informasi, terkhususnya internet sangat penting dan mutlak dalam memenuhi kebutuhan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, Asep Saepudin (2005) menyatakan beberapa manfaat kehadiran teknologi informasi terkhususnya internet:Pertama,hampir dapat dipastikan bahwa setiap kantor telah memiliki dan menggunakan komputer. Demikian juga pada setiap keluarga, terutama diperkotaan komputer sudah menjadi fasilitas biasa dan dapat dioperasikan oleh hampir semua anggota keluarga. Jumlah keluarga yang mempunyai komputer menunjukan peningkatan sebagai hasil kemajuan dari perkembangan ekonomi. Ini berarti bahwa jumlah masyarakat yang mempunyai akses terhadap komputer meningkat dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, program pendidikan berbasis komputer dapat dikembangkan untuk kelompok (masyarakat) ini. Kedua,proses penyampain materi ajar yang akan ditransformasikan kepada peserta belajar dapat lebih efektif dan efisien, karena di Indonesia sudah banyaknya dibuat software pendidikan oleh para pakar komputer, walaupun tergolong pada fase “early stage” dan bersifat sporadis dan belum terkoordinir dengan baik. Saat ini sudah banyak software pendidikan yang bermutu tinggi, namun biasanya software tersebut adalah buatan luar negeri sehingga muncul kendala baru yaitu masalah bahasa Inggris.
Strategi pembelajaran yang meliputi pengajaran, diskusi, membaca, penugasan, presentasi dan evaluasi, secara umum keterlak sanaannya tergantung dari satu atau lebihtiga model dasar dialog atau komunikasi sebagai berikut ( Boettcher, 1999) (a) komonikasi antara guru dengan siswa, (b) komonikasi antara siswa dengan sumber belajar, dan (c) komonikasi siswa dengan siswa.
Apabila ketiga aspek tersebut dapat diselenggarakan dengan komposisi yang serasi, maka diharapkan akan terjadi proses pembelajaran yang optimal. Pakar pendidikan menyatakan bahwa keberhasilan pencapaian tujuan dari pembelajaran sangat ditentukan oleh keseimbangan antara ke3 aspek tersebut (Pelikan, 1992).
IInstitusi pendidikan yang akan menyelenggarakan pembelajaran berbasis internetbiasanya menggunakan WebEnhanced Course , yaitu pemanfaatan internetsebagai penunjang peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar dikelas. Bentuk ini juga dikenal dengan nama Web life course, karena kegiatanpembelajaran utama adalah tatap muka dikelas antara guru dan siswa. Masalahnya adalah mampukah sekolah menyediakan fasilitas yang dapat menciptakan internetsebagai media pembelajaran ?, siapakah yang bertanggung jawab agar terwujudnya sekolah berbasis internet tersebut ?
Sekolah merupakan sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan antara subsistem dengan sub sistem lainnya yaitu meliputi pihak sekolah , pemerintah daerah dan pemrintah pusat,komite sekolah, dan peran masyarakat. Sekolah yang ingin memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran harus bisa diberi otonomi dan keluwesan-keluwesan yang lebih besar dalam mengelola sumberdaya pendidikan di sekolah tersebut. Hal ini akan mengingatkan kita pada Manajemen Berbasis sekolah (MBS), adanya keberagaman dalam mengelola sekolah, asal tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional. Implementasi dari MBS tersebut adalah sebagai berikut : (1)sekolah lebih memperbanyak mitranya dan melibatkan mereka dalamPenyelenggaraan sekolah, diantaranya komite, Lembaga swadaya Masyarakata, sektor swasta, organisasi profesi dan orang tua. (2)Bangun kapisitas sekolah yang meliputi perencanaan, sumber daya manuSia, kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, pendanaan,kepemimpianaoranisasi, administrasi, dll. (3) Membuat rencana pengembangan sekolah yang dijiwai oleh MBS (otonomi,partisipasi, keterbukaan, akuntabilitas, kerjasama dan subainabilitas) yang isinya antara lain : (a) visi,misi, strategi, tujuan, dan sasaran, (b) identifikasikan urusan-urusan sekolah yang dperlukan untuk mencapai setiap sasran. (c) sekolah melakukan analisis SWOT untuk mengetahui tingkat kesiapan setap faktor dalam setiap urusan / atau fungsi sekolah (d) pilihlah langkah – langkah pemecaahan persoalan, (e) buatkan rencana dari rincian program untuk merealisasikan rencana.
Bila kita melihat konteks diatas maka, sekolah akan mampu menciptakan pembelajaran yang berbasis internet dengan melibatkan semua pihak, dan adanya keterbukaan serta mampu membuat program yang baik dengan melakukan kerjasama kepada semua pihak dan setiap guru mampu meningkatkan kompetensinyadalampenguasaan komputer, sehingga diharapkan dapat memanfaatkan media internet sebagai media pembelajaran di kelas/ di sekolah.
Karena walau bagaimanapun kita tidak bisa terhindar dari globalisasi yang salah satunya adalah meningkatkan pembelajaran teknologi komonikasi dan informasi. Dengan demikian, terlihat bahwa media lain yang selama ini telah dipergunakan sebagai media pendidikan secara luas, internet juga mempunyai peluang yang tak kalah besarnya, dan bahkan mungkin karena keunikannya yang bisa mengakses segala informasi dari penjuru dunia. Internet bisa menjadi media pembelajaran yang paling terkemuka dan dipergunakan secara luas disekolah- sekolah, terutama sekolah yang berstandar Nasionan dan Skolah Berstandar Internasioanl, Siapkah kita sebagai guru, melakukan itu ?
Berdasarkan pemahaman diatas, nampaklah bagi kita bahwa kehadiran internet dalam dimensi pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak, dan sudah merupakan kebutuhan. Sebagai suatu kebutuhan, maka kehadiran internet pada dasarnya sangat membantu dunia pendidikan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih kondusif dan interaktif. Dimana para peserta didik tidak lagi diperhadapkan dengan situasi yang lebih konvensional, namun mereka akan sangat terbantu dengan adanya metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek pemakaian lingkungan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, Elangoan, 1999, Soekartawi, 2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997, dalam soekartawi (2003), menyatakan bahwa internet pada dasarnya memberikan manfaat antara lain: 1) Tersedianya fasilitas e-moderatingdi mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. 2) Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari; 3) Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer. 4) Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah. 5) Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. 6) Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif; 7) Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri, dsb-nya.
Manfaat internet pada dasarnya tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Hal ini sangat tergantung pada institusi pendidikan, apalagi jikalau metode ini dipergunakan maka akan berimplikasi pada : 1) ketersediaan sarana pendukung yang harus menunjang; 2) ketersediaan jaringan internet yang memadai; 3) serta perlu pula didukung oleh tingkat kecepatan yang memadai.
Dilain pihak, Bullen, (2001), Beam, (1997), dalam Soekartawi (2003), menyatakan bahwa kelemahan penggunaan internet adalah : 1) Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar; 2) Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial; 3) Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan; 4) Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT; 5) Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal; 6) Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer); 7) Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet.
Berdasarkan pemahaman diatas, maka nampaklah bagi kita bahwa internet pada dasarnya memiliki peranan yangcukup besar dan sangat penting dalam pengembangan pendidikan. Namun hal ini juga perlu ditunjang oleh ketersediaan sarana-prasarana yang mendukung, serta kesiapan pendidikan dan peserta didik untuk beradaptasi dengan teknologi internet.

KESIMPULAN

Pengertian E-Learning atau pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet. Seseorang yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional ka- rena berbagai faktor penyebab, misalnya harus be- kerja (time constraint), kondisi geografis (geograp- hical constraints), jarak yang jauh (distance cons- traint), kondisi fisik yang tidak memungkinkan (physical constraints), daya tampung sekolah kon- vensional yang tidak memungkinkan (limited avai- lable seats), phobia terhadap sekolah, putus seko- lah, atau karena memang dididik melalui pendidik- an keluarga di rumah (home schooling) dimungkinkan untuk dapat tetap belajar, yaitu melalui E- Learning.
PenyelenggaraanE-Learning sangat diten- tukan antara lain oleh: (a) sikap positif peserta di- dik (motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri),
(b) sikap positif tenaga kependidikan terhadap tek- nologi komputer dan internet, (c) ketersediaan fasi- litas komputer dan akses ke internet, (d) adanya dukungan layanan belajar, dan (e) biaya akses ke internet yang terjangkau untuk kepentingan pembe- lajaran/pendidikan.
Perkembangan di berbagai negara memper- lihatkan bahwa jumlah pengguna internet terus me- ningkat; demikian juga halnya dengan jumlah pe- serta didik yang mengikuti E- Learning dan insti- tusi penyelenggara E-Learning. Fungsi E-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui program E-Learning memiliki pengakuan yang sa- ma dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional.
Peserta didik maupun dosen/guru/instruktur dapat memperoleh manfaat dari penyelenggaraan E-Learning. Beberapa di antara manfaat E-Learn- ing adalah fleksibilitas kegiatan pembelajaran, baik dalam arti interaksi peserta didik dengan materi/ bahan pembelajaran, maupun interaksi peserta didik dengan dosen/guru/instruktur, serta interaksi
antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran.
Lembaga pendidikan konvensional (univer- sitas, sekolah, lembaga-lembaga pelatihan, atau kursus-kursus yang bersifat kejuruan dan lanjutan) secara ekstensif telah menyelenggarakan perluasan kesempatan belajar bagi ‘target audience’ mereka melalui pemanfaatan teknologi komputer dan in- ternet (Collier, 2002). Seiring dengan hal ini, pe- serta didik usia sekolah yang mengikuti kegiatan pembelajaran elektronik juga terus meningkat jum- lahnya (Gibbon, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, Mohammad Toha. 2001. Tutorial Elek- tronik melalui Internet dan Fax Internet. da- lam Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Ja- uh, Volume 2, No. 1, Maret 2001. Tangerang: 
Universitas Terbuka.
Chandra. 2004. Pembelajaran Jarak Jauh, PT. Jakarta: Elexmedia Komputindo
Hernowo, 2007, Menjadi Guru Kreatif, Jakarta : Mizan.
M. Basyiruddin Usman, H. Asnawir, 2002, Media Pembelajaran, Jakarta : Ciputat Press,
Sutantyo, Winardi. 2003. E-Learning kemudahan dan tantangan. Jakarta: PT. Elexmedia Kom- putindo
Tim Pengembang. 2005. Sistem pembelajaran elektronik. Jogjakarta: Andi Offset, Collier, Geoff. 2002.
E-Learning in Australia, (sumber dari internet: http://www.eduworks.com).


Yusufhadi Miarso, 1984,Teknologi komunikasi pendidikan: pengertian dan penerapannya di Indonesia, Jakarta:Rajawali.
Yusufhadi Miarso, 1986, Pu, Media pendidikan: pengertian, pengembangan dan Pemanfaatannya, Jakarta : Penerbit Rajawali.



4 komentar:

  1. Assalamulaikum warohmatullahi wabarokatuh ...

    Mohon izin menanggapi artikel di atas yang berjudul "E-LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF PEMBELAJARAN MODERN". Sebuah ulasan yang panjang dan sangat lengkap terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan e-learning.

    Sedikit menambahkan saja terkait hal tersebut bahwa dalam konteks alternatif artinya e-learning dapat dijadikan solusi kedua atas kendala ataupun permasalahan penyelenggaraan proses pembelajaran secara tatap muka.

    Namun yang perlu diingat bahwa dalam perencanaan hingga pelaksanaan salah satu metode PJJ ini perlu diyakinkan bahwa hal tersebut dilakukan berbasis kebutuhan (need to do). Sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai secara optimal. Yang dimaksud dengan PJJ disini adalah sistem digital yang dibangun dan dijadikan dasar/acuan dalam proses pengembangan yang dilakukan. Jadi, tidak mesti elektronik learning, bisa saja blended learning, web based learning, online learning dan masih banyak lagi.

    Demikian yang bisa ditambahkan, mohon maaf jika keliru.
    Terima kasih

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum Wr.Wb
    Artikel yang dibuat oleh penulis sudah bagus, dan sudah tergambar mengenai e-learning dalam dunia pendidikan. Seperti yang sama-sama sudah kita lihat khususnya pada Dunia pendidikan yang dahulu hanya bisa dilakukan dengan cara tradisional atau dengan tatap muka, sekarang sudah dapat dilakukan dengan bantuan media, salah satunya dengan cara teknologi pemrograman yang di aplikasikan kedalam e-learning.
    E-Learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Yang dapat mempermudah siswa dan guru dalam mencari berbagai sumber belajar. Beberapa media yang digunakan adalah internet, jaringan komputer maupun komputer standalone. Contoh penerapan e-learning dalam instansi pendidikan dapat di lihat melalui berbagai sekolah dan universitas yang menyediakan fasilitas e-learning. Fasilitas e-learning memungkinkan terjadinya pembelajaran jarak jauh atau lebih tepatnya system ¬e-course (kuliah jarak jauh).
    Dalam e-learning, sistem dua arah bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
    1. Dilaksanakan melalui cara langsung artinya pada saat instruktur memberikan pelajaran, murid dapat langsung mendengarkan.
    2.Dilaksanakan melalui cara tidak langsung misalnya pesan dari instruktur direkam dahulu sebelum digunakan.
    Karakteristik e-learning dalam PJJ antara lain adalah:
    1.Memanfaatkan jasa teknologi elektronik. Guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang bersifat protokoler.
    2. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks)
    Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya
    3 Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
    Sekian tambahan dari saya.Terimakasih wassalam

    BalasHapus
  3. Manfaat e-learning dalam pembelajaran jarak jauh adalah. memudahkan guru atau pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran walau tidak dalam waktu yang bersamaan dengan waktu pertemuan tatap muka dalam proses belajar mengajar. sedangkan bagi siswa juga siswa dapat belajar mandiri dimanapun berada dan tidak harus hadir dalam ruang kelas dalam suatu waktu yang ditentukan.
    Kerjasama antar guru, dosen, pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh untuk menemui seorang dosen untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan email atau chating. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.
    Teknologi internet hadir sebagai media yang multifungsi. Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara masal, yang dikenal one to many communication(misalnya mailing list).

    BalasHapus
  4. Assalamu'alaikum

    Tulisan yang menarik tentang e-learning untuk pembelajaran modern, berkaitan dengan hal ini dalam penerapan e-learning yang berhasil, indikator seperti apa yang harus disiapkan oleh pendesain e-learning agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

    Demikian, terima kasih..

    BalasHapus