Sabtu, 12 Oktober 2019

PEMBELAJARAN JARAK JAUH (STUDI KASUS DALAM DUNIA KERJA)

STUDI KASUS PERMASALAHAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN KONSEP GENETIKA DI SMA NEGERI 12 KOTA JAMBI

PENDAHULUAN
Genetika merupakan salah satu materi dalam pembelajaran biologi yang selama ini diyakini banyak siswa sebagai materi yang sulit untuk dipahami. Bahar et al dalam Herlanti (2007) mengemukakan bahwa genetika merupakan materi yang sulit dimengerti oleh sebagian besar siswa karena konsep genetika bersifat esoterik dan abstrak, yang meliputi objek-objek mikroskopik dan proses-proses di luar pengalaman siswa sehari-hari. Untuk memberikan pemahaman secara optimal terhadap konsep-konsep yang bersifat abstrak diperlukan berbagai upaya pembelajaran. 
Berbagai faktor dapat mempengaruhi kualitas belajar siswa. Faktor- faktor itulah yang menentukan kesuksesan pembelajaran di suatu sekolah. Nurkolis (2011) menjelaskan bahwa,” Keberhasilan pendidikan di sekolah ditentukan oleh bagaimana proses pembelajaran berlangsung di sekolah tersebut. Sekolah sebagai sistem penyelenggara pendidikan harus dapat memberdayakan seluruh komponen yang ada di dalamnya secara terpadu, saling berkaitan satu sama lain untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik sehingga mendorong tercapainya tujuan pendidikan. Atas dasar itu, penulis tertarik untuk mengidentifikasi lebih lanjut permasalahan dalam proses pembelajaran genetika yang dilaksanakan di SMA Negeri 12 Kota Jambi.
Mengingat faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran sangat luas maka dalam hal ini peneliti memfokuskan kajian studi kasus hanya pada proses belajar mengajar dengan fokus observasi mencakup:
 A. Model yang diterapkan dalam proses pembelajaran konsep genetika.
B. Sarana pembelajaran yang digunakan, meliputi : 
1.Media pembelajaran, 

2.Bahan ajar, 

3.Sumber belajar, 

4. Pemanfaatan laboratorium, baik Laboratorium IPA 
Penelitian studi kasus ini bertujuan untuk: 
a. Mengetahui model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran konsep genetika di SMA Negeri 12 Kota Jambi. 
b. Mengetahui kendala yang dihadapi siswa dalam memahami konsep genetika berdasarkan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan di SMA Negeri 12 Jambi Jambi
c. Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam mengajarkan konsep genetika berdasarkan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan di SMA 12 Kota Jambi
d. Mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap konsep genetika berdasarkan sistem pembelajaran yang telah dilaksanakan. 
METODE PENELITIAN 
Penelitian studi kasus ini dilakukan di SMA Negeri 12 Kota Jambi bertempat di Jl. Kapten A. Bakaruddin Kelurahan Beliung Kecamatan Kota Baru. Studi kasus dilakukan melalui studi lapangan dengan proses kunjungan ke sekolah pada Bulan November 2013. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui beberapa cara yaitu : 
1.Observasi langsung (field study), 
mencakup proses observasi kondisi gedung sekolah dan lingkungannya, observasi proses belajar mengajar di kelas, dan observasi pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah. Data yang dihasilkan dikumpulkan melalui pencatatan dan dokumentasi menggunakan kamera. 

2.Observasi tidak langsung, dengan meminta data profil sekolah dari pegawai tata usaha (TU) di sekolah. 

3.Pembagian Angket kepada siswa (Angket terbuka dan tertutup). 

4.Wawancara formal dan non formal dengan guru bidang studi Biologi. 
Analisis data dilakukan secara kualitatif 
dan ditampilkan dalam bentuk deskriptif. 
HASIL TEMUAN DAN PEMBAHASAN 
Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 12 Kota Jambi dan dilanjutkan dengan wawancara dengan guru dan siswa, peneliti menemukan informasi lebih lanjut tentang:

1. Proses Pembelajaran di Kelas
Beberapa hal yang ditinjau berkaitan dengan proses pembelajaran konsep genetika di kelas yaitu:

A. Model Pembelajaran yang Digunakan 
Pada saat melakukan kunjungan ke sekolah (studi lapangan) penulis mendapat kesempatan mengikuti secara langsung proses pembelajaran genetika di kelas. Berdasarkan hasil pengamatan, penulis menemukan bahwa model pembelajaran yang digunakan pada proses pembelajaran genetika di kelas XII IPA bersifat semi konvensional artinya guru mengajar dengan menggunakan metode ceramah namun tetap melibatkan siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Guru menyampaikan materi secara bertahap diiringi dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan kepada siswa sehingga pembelajaran tidak terlihat terlalu monoton. Selain itu guru juga meminta siswa maju ke depan mengisi latihan persilangan secara bergilir. 
B. Bahan Ajar yang Digunakan 
Berdasarkan observasi diketahui bahwa bahan ajar yang digunakan guru dalam mengajarkan konsep genetika terdiri dari 2 buku paket. Buku paket pertama yaitu Buku Panduan Pendidik Biologi SMA Kelas XII yang ditulis oleh Rohana Kusuma dan Gut Windarsih, diterbitkan oleh penerbit Intan Pariwara. Bahan ajar yang kedua sekaligus menjadi sumber belajar siswa adalah Buku Biologi SMA Kelas XII yang ditulis oleh D.A Pratiwi dkk. Buku ini disusun berdasarkan standar isi kurikulum KTSP 2006 yang diterbitkan oleh penerbit Erlangga. Buku tersebut diperoleh dari perpustakaan sekolah SMA Negeri 12 Kota Jambi. Hasil angket menunjukkan bahwa 100% siswa tidak menggunakan sumber belajar lain selain buku paket yang diperoleh dari sekolah. Selain itu dari angket dan wawancara dengan guru juga diketahui bahwa dalam proses pembelajaran tidak disediakan bahan/ sumber belajar lain seperti handout/modul. 
C. Media yang Digunakan
Dari hasil observasi, wawancara dan angket Dalam proses pembelajaran genetika guru SMA Negeri 12 Kota Jambi menggunakan media berupa charta/ gambar dan alat peraga yang disusun oleh siswa dibawah bimbingan guru. Charta dan alat peraga ini digunakan untuk menjelaskan beberapa konsep yang membutuhkan media sebagai penunjang pemahaman siswa. Namun charta dan alat peraga ini tidak dapat diperlihatkan secara fisik karena pada saat peneliti melakukan studi kasus gambar dibawa pulang oleh siswa ke rumah dan dalam proses perbaikan disebabkan beberapa komponen dari alat peraga dan gambar tersebut mengalami kerusakan. Media lain seperti video/ animasi tidak pernah digunakan karena sekolah tidak menyediakan sarana pembelajaran seperti infokus dan perlengkapannya sehingga tidak memungkinkan untuk menggunaan media tersebut. 
D. Interaksi dalam Pembelajaran 

Berdasarkan hasil observasi di dalam kelas pada saat proses pembelajaran genetika peneliti mengamati bahwa interaksi antara guru dengan siswa telah terbangun dengan baik namun interaksi antara siswa dengan siswa dapat dikatakan belum terjadi sama sekali. Tidak ada kegiatan yang menimbulkan interaksi sesama siswa dalam proses pembelajaran. 
2. Hasil Temuan Berkaitan dengan Komponen Guru 
Dari hasil wawancara dan observasi diketahui bahwa guru yang bertugas sebagai pengajar Bidang Studi Biologi di SMA Negeri 12 Kota Jambi merupakan alumni fakultas Pertanian dan sedang dalam pendidikan pasca sarjana semester III. Selain sebagai guru bidang Studi Biologi saat ini beliau menjabat sebagai Pembina OSIS SMA Negeri 12 Kota Jambi. Beliau merupakan satu-satunya guru biologi di sekolah tersebut dan telah mengajar selama kurun waktu 9 tahun. Sekolah SMA Negeri 12 Kota Jambi memiliki unit kelas yang tidak terlalu banyak yaitu hanya dua kelas untuk setiap jenjangnya (Kelas Xdan X2, Kelas XIdan XI2, dan Kelas XIIIPA dan XIIIPS). 
Hasil Temuan Berkaitan dengan Komponen Siswa 
Dari hasil observasi, pembagian angket, dan dilanjutkan dengan wawancara diperoleh beberapa informasi berkaitan dengan kondisi siswa SMA Negeri 12 Kota Jambi dalam proses pembelajaran genetika serta kendala dan minat belajar siswa berdasarkan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari hasil observasi diketahui bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran genetika adalah siswa kelas XII IPA yang terdiri dari 22 siswa. Pada saat proses pembagian angket salah satu siswa berhalangan hadir sehingga yang teridentifikasi adalah 21 siswa. Berdasarkan hasil angket diketahui bahwa 90,5% siswa mengakui bahwa genetika merupakan materi yang sulit untuk dipahami. Lebih lanjut dari hasil wawancara siswa menjelaskan alasan materi ini sulit dipelajari karena banyaknya istilah-isilah dan materi yang sangat kompleks sehingga sebagian siswa merasa kesulitan dan kebingungan dalam memahami konsep ini. 16 dari 21 siswa (76,9% siswa) juga menegaskan bahwa materi genetika pada buku teks biologi sulit untuk dipahami. Lebih lanjut dari hasil wawancara siswa memaparkan bahwa kesulitan untuk memahami materi pada buku paket dikarenakan materi pada buku paket sekolah terlalu banyak dan hal ini membuat siswa merasa malas untuk membaca dan menelaahnya. 

4. Hasil Temuan Berkaitan Laboratorium IPA 
Alat dan bahan yang tersedia di laboratorium  sekolah seperti miroskop dan perlengkapan laboratorium lainnya. Dari hasil angket siswa, 21 siswa (100% siswa) mengakui bahwa untuk proses pembelajaran genetika selama ini memang tidak pernah dilakukan kegiatan praktikum. 
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil temuan, peneliti mengetahui lebih jauh kondisi proses pembelajaran genetika di SMA 12 Kota Jambi dan kendala-kendala yang dihadapi siswa dan guru dalam proses pembelajaran genetika yang berlangsung selama ini. Beberapa permasalahan dan kendala yang dapat diidentifikasi yaitu sebagai berikut :

1. Berkaitan dengan siswa, genetika dianggap sulit dipelajari karena banyaknya istilah- istilah penting dan materinya bersifat abstrak. 
2. Model pembelajaran konvensional menutup peluang siswa untuk berinteraksi sesama siswa. Kondisi ini dapat menurunkan motivasi belajar dan menimbulkan kejenuhan belajar siswa. 
3. Siswa sulit memahami materi genetika dalam buku paket sekolah karena uraian materi sangat kompleks sehingga siswa menjadi tidak tertarik untuk membaca dan menelaah materi lebih lanjut. 
4. Media video/animasi tidak pernah diterapkan di SMA Negeri 12 Kota Jambi selama ini karena tidak tersedianya fasilitas untuk menampilkan media tersebut. Sedangkan media video, animasi, dan gambar mempunyai andil yang besar dalam memberikan pemahaman pada siswa 
Laboratorium adalah sarana yang sangat penting sebagai penunjang pemahan siswa. Dari hasil observasi diketahui bahwa laboratorium belum tersedia sama sekali di sekolah SMA Negeri 12 Kota Jambi bahkan tidak ada satupun perangkat laboratorium tentang atribut atribut dalam materi genetika.

5. Praktikum tidak pernah dilakukan selama ini karena di SMA Negeri 12 Kota Jambi tidak tersedia laboratorium dan perlengkapannya. 
Berdasarkan identifikasi permasalahan- permasalahan yang ditemukan, penulis mengamati banyak hal yang perlu dibenahi berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar pada konsep genetika di SMA Negeri 12 Kota Jambi. Dari sekian banyak kendala-kendala yang ada terdapat beberapa kendala yang dapat diupayakan solusinya dalam waktu yang cepat yaitu pengadaan bahan ajar dan penerapan model-model pembelajaran yang lebih tepat. Sedangkan sebagiannya lagi adalah kendala-kendala yang memang memungkinkan untuk dicarikan solusi namun membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama seperti pengadaan laboratorium serta perlengkapannya dan pengadaan infokus. 
Permasalahan pertama adalah konsep genetika sebagai materi yang sulit dimengerti. Dari hasil angket seluruh siswa (21 siswa/100% siswa) mengakui materi ini adalah materi yang sulit dimengerti. Genetika memang merupakan materi yang sulit dipahami oleh sebagian besar peserta didik baik jenjang sekolah SMP , SMA, maupun perguruan tinggi. Sebagian besar peserta didik meyakini materi ini adalah materi yang rumit. Hal ini dibuktikan dari berbagai sumber yang menyebutkan bahwa genetika merupakan salah satu materi biologi yang memerlukan upaya lebih dalam pembelajarannya. Kesulitan ini disebabkan karena konsep genetika bersifat esoterik dan abstrak, yang meliputi objek-objek mikroskopik dan proses-proses di luar pengalaman siswa sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan rancangan proses pembelajaran yang tepat untuk membantu siswa meningkatkan pemahaman pada konsep ini. Pada dasarnya materi yang sulit tidak menjadi masalah besar selama diadakan solusi yang tepat yaitu upaya-upaya pembelajaran yang sesuai sehingga materi tersebut dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh peserta didik. Upaya pertama adalah menyesuaikan model pembelajaran. Model pembelajaran sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. 
Permasalahan kedua yang ditemukan dari hasil temuan penelitian studi kasus adalah penerapan model pembelajaran yang dianggap masih kurang tepat. Model pembelajaran semikonvensional tidak dapat secara optimal memberikan pemahaman yang baik terhadap materi-materi yang bersifat abstrak. Siswa cenderung merasa bosan dan apabila tidak ada interaksi maka kondisi pembelajaran akan semakin menjenuhkan. Oleh karena itu model pembelajaran yang mampu merangsang siswa untuk saling berinteraksi sangat baik diterapkan dalam proses pembelajaran pada konsep-konsep abstrak seperti Genetika. Salah satu model yang dianggap mampu membangkitkan motivasi siswa untuk berinteraksi adalah model pembelajaran interaktif. Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Harlendalam Suryani,2008). 
Permasalahan ketiga dari hasil temuan penelitian studi kasus ini adalah kendala siswa dalam memanfaatkan sumber belajar. Mulyasa (2002) menjelaskan bahwa sumber belajar merupakan segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses belajar mengajar. Dari hasil angket 76,9% siswa mengaku sulit memahami materi genetika pada buku paket sekolah. hakikatnya buku paket berfungsi untuk membantu siswa memahami materi pelajaran namun tidak semua siswa mempunyai kemampuan yang sama dalam menelaah bacaan. Oleh karena itu upaya yang perlu dilakukan adalah menyusun sumber belajar penunjang yang komunikatif, sederhana namun komprehensif. 
Selain sumber belajar hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah bahan ajar. Bahan ajar dapat dimaknai sebagai sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang dirancang secara khusus seperti film pendidikan, peta, grafik, buku, dan bahan lainnya yang bersifat umum namun dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar. Bahan ajar berperan penting dalam proses pembelajaran. Belawati (2003) menjelaskan bahwa,” Dalam kegiatan pembelajaran bahan ajar sangat penting baik bagi guru maupun siswa. Guru akan mengalami kesulitan dalam meningkatkan efektivitas pembelajarannya jika tanpa disertai bahan ajar yang tepat. Begitu pula bagi siswa, tanpa adanya bahan ajar siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran. Oleh karena itu memperkaya bahan ajar merupakan suatu hal yang sangat perlu dilakukan oleh seorang guru. 
Bahan ajar tidak hanya buku hasil karya yang diterbitkan namun guru memiliki kesempatan untuk menyusun sendiri bahan ajar yang tentunya lebih sesuai dengan kondisi siswanya masing- masing. Menurut paradigm pembelajaran behavioristik, guru dapat menyediakan modul untuk mempermudah siswa dalam memahami suatu konsep. Guru dapat merancang modul yang sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya masing-masing (Sadulloh, 2007). 
Permasalahan keempat adalah penggunaan media. Pengetian media secara terminology cukup beragam, sesuai dengan sudut pandang pakar pendidikan. Seperti yang dinyatakan oleh Sutikno (2005) dalam Musfiqon, HM (2012) bahwa Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and Communication Technology/ AECT) membatasi media sebagai segala bentuk yang diprogram dalam proses penyampaian informasi. Sedangkan Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Associated/ NEA) memiliki pengertian yang berbeda, menurut mereka media merupakan benda yang dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat mempengaruhi efektifitas proses pembelajaran. Berdasarkan hasil angket, wawancara dan observasi diketahui bahwa di SMA Negeri 12 Kota Jambi tidak disediakan fasilitas elektronik untuk menampilkan media animasi atau video sehingga pembelajaran berbasis media gerak tidak pernah dilakukan. Namun demikian, media berupa charta dan model menurut hasil wawancara dengan guru telah pernah disusun bersama siswa namun bukti fisiknya tidak dapat diperlihatkan karena charta dan model tersebut dalam kondisi rusak dan telah dibawa pulang oleh siswa untuk dilakukan reparasi. 
Permasalahan kelima adalah kebutuhan terhadap sarana pembelajaran yaitu laboratorium. Laboratorium mempunyai peranan yang besar untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Sudaryanto (1998) menerangkan bahwa,” Laboratorium merupakan salah satu sarana sekolah yang berperan sebagai penunjang peningkatan hasil belajar dan pengembangan pengetahuan siswa. Laboratorium merupakan tempat peserta didik berlatih dan melakukan kontak langsung dengan objek yang dipelajari, baik melalui pengamatan maupun percobaan. Keberadaan laboratorium sangat besar perananannya untuk mengembangkan pengetahuan siswa. 
Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa di sekolah SMA Negeri 12 Kota Jambi belum memiliki sarana laboratorium dan perlengkapannya. Salah satu fasilitas laboratorium yang dianggap cukup penting dalam pembelajaran genetika adalah model- model substansi genetik seperti kromosom. Di sebagian sekolah fasilitas model-model substansi genetik ini telah ada baik dalam bentuk charta maupun torso sehingga memudahkan siswa mengenal secara lebih dekat bagian-bagian dari kromosom dan macam-macam bentuk kromosom. Namun demikian, sarana laboratorium ini tidak menjadi hambatan besar karena pada dasarnya model-model tersebut dapat dirancang oleh siswa dalam bimbingan guru. Guru dapat membimbing siswa membuat charta permodelan dari komponen-komponen substansi genetika seperti kromosom, DNA, RNA, dan lainnya. 
SIMPULAN DAN SARAN 
Simpulan
Berdasarkan hasil temuan dan pengembangan teori maka dapat disimpulkan: 
1.   Model pembelajaran yang digunakan 
dalam proses pembelajaran konsep genetika di SMA Negeri 12 Kota Jambi bersifat semikonvensional. 

2.  Siswa SMA Negeri 12 Kota Jambi sulit memahami konsep genetika karena pada materi genetika terdapat banyak istilah- istilah yang sulit untuk diingat.
3.   
Siswa sulit memahami konsep genetika yang terdapat pada buku paket sekolah karena uraian materi dalam buku paket sekolah sangat kompleks dan luas sehingga siswa menjadi tidak tertarik untuk membaca dan menelaah materi lebih lanjut. 

4.  Siswa SMA Negeri 12 Kota Jambi hanya menggunakan buku paket sekolah sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran konsep genetika. 

5.  Media video/animasi tidak pernah digunakan dalam proses  pembelajaran di SMA Negeri 12 Kota Jambi 
6.  Praktikum tidak pernah dilakukan di SMA Negeri 12 Kota Jambi karena di sekolah tersebut tidak tersedia laboratorium dan perlengkapannya. 
7.  Proses pembelajaran pada konsep genetika di SMA Negeri 12 Kota Jambi belum berjalan dengan optimal, siswa belum memahami dengan baik konsep genetika berdasarkan sistem pembelajaran yang telah dilakukan selama ini. 
Saran
Demikianlah paparan kegiatan penelitian studi kasus pembelajaran genetika di SMAN 12 Kota Jambi. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pada konsep Genetika. Selain itu, peneliti menyadari laporan ini tentunya masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu peneliti mengharapkan kritik dan saran membangun untuk pembaharuan penulisan supaya ke depan menjadi lebih baik. 
DAFTAR RUJUKAN 
Belawati, T . 2003. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka 
Cavallo. 1996. Meaningful Learning, Reasoning Ability, and Students’s 
Understanding and Problem Solving of T opics in Genetics. Journal of Research in Science Teaching. 33 (6): 625 -656 

Gage. 1988. Educational Psychology. (4 th ed). Houston, TX: Houghton Mifflin. 

Herlanti, Y . 2007. Kontribusi Wacana Multimedia Terhadap Pemahaman Dan Retensi Siswa. Jurnal pendidikan ipa metamorfosa. vol 2 no 1 hal 29- 38. 

3 komentar:

  1. Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh...
    Pemaparan yang menarik tentang studi kasus pembelajaran konsep genetika pada pembelajaran Biologi di SMA Negeri 12 Kota Jambi, Izin menanggapi bahwa pembelajaran biologi ilmu yang sangat erat kaitannya dengan individu yang mempelajarinya dalam hal ini adalah peserta didik, memang untuk tercapainya tujuan pembelajaran guru perlu menyiasati dengan berbagai upaya baik berupa kreatifitas maupun inovasi melalui analisis kendala-kendala yang dihadapi oleh peserta didik, berkaitan dengan tema pokok yakni pembelajaran jarak jauh dalam kaitannya dengan stdi kasusu pada pembelajaran jarak jauh, bahwasannya konten pembelajaran jarak jauh yang dikaitkan dengan pembelajaran konsep genetika pada pembelajaran biologi masih secara umum, namun tulisan ini sangat membantu bagi pembaca yang memiliki permasalahan yang sama di lapangan, Demikian Terima Kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh...
      terimakasih atas tanggapan sdri.Iyut
      memang dalam tulisan diatas belum tertulis secara telas tentang kaitan antara materi genetika dengan PJJ..
      Sebenarnya bisa dikaitkan karena bisa saja hal tersebut dilakukan, karena materi tersebut sangat penting dan peserta bisa lebih faham dengan bantuan PJJ..

      Hapus
  2. Assalamualaikum warohamtullahi wabarokatuh...

    Menurut saya selaku pembaca umum menyatakan bahwa ulasan yang dituliskan di atas baik sekali, sangat nyata dan benar-benar terjadi dalam sebuah proses pembelajaran di sekolah. Mungkin saja hal tersebut juga terjadi di sebagian besar sekolah-sekolah yang lain. Selain itu, penjabaran mengenai studi kasus ini sangat runtut dan sistematis sehingga pembaca dapat mudah memahami alur pembahasan kasus.

    Yang ingin ditanggapi dan mohon izin mengomentari artikel tersebut bahwa sekilas pandang ulasan di atas menyerupai PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang berawal dari identifikasi masalah hingga sampai pengumpulan data dan faktanya. Namun, apakah tidak dijabarkan lebih lanjut mengenai solusi yang diharapkan atau yang seyogyanya dapat diterapkan sehingga sedikit membantu mengatasi permasalahan atau kasus yang terjadi.

    Selain itu jika memang ulasan kasus di atas tidak membutuhkan metode pembelajaran jarak jauh atau belum menyinggung mengenai PJJ itu sendiri, apakah tidak sebaiknya tulisan ini "PEMBELAJARAN JARAK JAUH (STUDI KASUS DALAM DUNIA KERJA" dihilangkan saja. Mengingat deskripsi artikel lebih menekankan pada identifikasi atau studi kasus hingga pada kesimpulan yang terkait dengan permasalahan belajar.

    Yang terakhir, mohon maaf jika saya kurang benar bahwa pada subbab saran apakah tidak dituliskan mengenai harapan penulis terkait solusi yang diinginkan atas permasalahan-permasalahan yang sudah secara gamblang dijelaskan pada ulasan di atasnya. Karena jika digambarkan melalui analisis, baik dengan menggunakan berbagai tool analisis (SWOT, Fish Bone dsb) dapat ditarik semacam alternatif solusi yang mungkin dapat membantu dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

    Demikian tanggapan saya dan mohon maaf sekali jika tanggapan saya kurang tepat.

    Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

    BalasHapus