Prinsip Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Menunjang Dunia Kerja
Pembelajaran jarak jauh seperti yang sering kita dengar ialah pembelajaran yang mengutamakan kemandirian. Guru dapat menyampaikan materi ajar kepada peserta didik tanpa harus bertatap muka langsung di dalam suatu ruangan yang sama. Pembelajaran semacam ini dapat dilakukan dalam waktu yang sama maupun tidak dengan memanfaatkan berbagai macam alat teknologi. Meskipun teknologi merupakan bagian integral dari pendidikan jarak jauh, namun program pendidikan harus difokuskan pada kebutuhan instruksional peserta didik daripada teknologinya itu sendiri. Selain itu, aspek-aspek lain dari pembawaan masing-masing peserta didik juga perlu diperhatikan seperti, umur, kultur, latar belakang sosioekonomi, minat, pengalaman, level pendidikan, dan terbiasa atau tidaknya dengan metode pendidikan jarak jauh. Factor yang penting untuk keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh adalah perhatian, percaya diri pendidik, pengalaman, mudah menggunakan peralatan, kreatif menggunakan alat, dan menjalin interaksi dengan peserta didik.
Pada pembangunan sistem perlu diperhatikan tentang desain dan pengembangan sistem, interactivity, active learning, visual imagery, dan komunikasi yang efektif.
1. Desain dan pengembangan sistem. Proses pengembangan instruksional untuk pendidikan jarak jauh terdiri dari tahap perancangan, pengembangan, evaluasi, dan revisi. Dalam mendesain instruksi pendidikan jarak jauh yang efektif, harus diperhatikan, tidak saja tujuan, kebutuhan, dan karakteristik pendidik dan peserta didik, tetapi juga kebutuhan isi dan hambatan teknis yang mungkin terjadi. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dari instruktur, spesialis pembuat isi, dan peserta didik selama dalam proses berjalan.
2. Interactivity. Keberhasilan system pendidikan jarak jauh antara lain ditentukan oleh adanya interaksi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dan lingkungan pendidikan, antara peserta didik dengan peserta didik lainnya.
3. Active learning. Partisipasi aktif pendidikan jarak jauh memengaruhi cara bagaimana mereka berhubungan dengan materi yang akan dipelajari.
4. Visual imagery. Pembelajaran melalui televisi dapat memotivasi dan merangsang keinginan dalam proses pembelajaran. Namun, jangan sampai terjadi distorsi karena adanya hiburan. Harus ada penyeleksian antara informasi yang tidak berguna dengan yang berkualitas, menentukan mana yang layak dan tidak, mengidentifikasi penyimpangan, membedakan fakta dari yang bukan fakta, dan mengerti bagaimana teknologi dapat memberikan informasi berkualitas.
5. Komunikasi yang efektif. Desain instruksional dimulai dari harapan pemakai, dan mengenal mereka sebagai individual yang memounyai pandangan yang berbeda dengan peancang sistem. Dengan memahami keinginan pemakai maka dapat dibangun suatu komunikasi yang efektif. (Hamzah. 2007. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, hal. 35-36).
Pembelajaran jarak jauh memungkinkan para peserta mengambil kelas kapanpun dan dimanapun. Hal ini memungkinkan mereka untuk menyesuaikan pendidikan dan pelatihannya dengan tanggung jawab dan komitmen-komitmen lainnya, seperti keluarga dan pekerjaan. Ini juga memberi kesempatan kepada para peserta yang mungkin tidak dapat belajar karena keterbatasan waktu, jarak atau dana untuk ikut serta. Walaupun demikian untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh tersebut kita juga harus memperhatikan prinsip-prinsipnya, yaitu sebagai berikut :
1. Tujuan yang jelas. Perumusan tujuan harus jelas, spesifik, teramati, dan terukur untuk mengubah perilaku peserta didik.
2. Relevan dengan kebutuhan. Program belajar jarak jauh harus relevan dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dunia kerja, atau lembaga pendidikan.
3. Mutu pendidikan. Pengembangan program belajar jarak jauh upaya meningkatkan mutu pendidikan yaitu proses pembelajaran yang ditandai dengan pembelajaran lebih aktif atau mutu lulusan yang lebih produktif.
4. Efisiensi dan efektivitas program. Efisiensi mencakup penghematan dalam penggunaan biaya, tenaga, sumber dan waktu, sedapat mungkin menggunakan hal-hal yang tersedia.
5. Efektivitas. Memperhatikan hasil-hasil yang dicapai oleh lulusan, dampaknya terhadap program dan terhadap masyarakat.
6. Pemerataan. Hal ini berkaitan dengan pemerataan dan perluasan kesempatan belajar, khususnya bagi yang tidak sempat mengikuti pendidikan formal karena lokasinya jauh atau sibuk bekerja.
7. Kemandirian. Kemandirian baik dalam pengelolaan, pembiayaan, maupun dalam kegiatan belajar.
8. Keterpaduan. Keterpaduan, yang dimaksud adalah keterpaduan berbagai aspek seperti keterpaduan mata pelajaran secara multi disipliner.
9. Kesinambungan. Penyelenggaraan belajar jarak jauh tidak insidental dan sementara, tetapi dikembangkan secara berlanjut dan terus menerus.
Semua manusia sedari kecil pasti mempunyai segudang cita-cita. Tetapi sayangnya tidak ada seorang pun yang mengetahui akan menjadi apa dia di masa depan. Manusia hanya mempunyai rencana, tetapi tetap Tuhan lah yang akan menentukan akhir dari sebuah rencana.
Dunia pendidikan adalah jalan untuk memuluskan rencana manusia menuju pencapaian cita-cita. Sekarang ini semua cita-cita mensyaratkan pendidikan sebagai batu loncatannya. Tidak terkecuali untuk menjadi karyawan, wirausaha, petani ataupun pekerja bengkel. Hampir sebagaian besar dari mereka pernah mengenyam pendidikan, minimal pernah bersekolah setingkat sekolah dasar.
Pendidikan itu tidak berorientasi langsung pada pekerjaan, karena manusia tidak dapat memprediksi tepat, pekerjaan apa yang akan dia kerjakan di masa depan. Untuk itu pendidikan berorientasi pada mengubah pola pikir manusia. Pola pikir manusia lah yang akan mempersiapkan dirinya untuk siap bekerja di bidang manapun dan akan mempengaruhi bagaimana cara mereka bekerja.
Jika mereka bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan, maka itu berarti sebuah keuntungan. Sedangkan jika mereka bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, yang di butuhkan hanyalah penyesuaian-penyesuaian, karena pendidikan sedari awal telah mempersiapkan mereka untuk siap di berbagai bidang pekerjaan. Untuk kesuksesan dalam pekerjaan, itu kembali kepada usaha masing-masing individu.
Penyelarasan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja
Meskipun pendidikan tidak berorientasi langsung pada pekerjaan, tetapi kebutuhan akan penyelarasan antara dunia pendidikan dan dunia kerja dewasa ini menjadi sangat penting. Fenomena urgennya penyelarasan ini tidak terlepas dari kesenjangan yang jauh antara jumlah lulusan dengan jumlah kebutuhan dunia kerja (di istilahkan dengan dimensi kuantitas), kesenjangan kompetensi lulusan dengan kompetensi yang di butuhkan dunia kerja (dimensi kualitas), ketidak mampuan wilayah/daerah setempat menyerap lulusan (dimensi lokasi), dan perubahan kondisi ekonomi baik lokal, nasional, global dan lead time pendidikan (dimensi waktu).
Kesenjangan-kesenjangan ini akhirnya melahirkan tingkat penggangguran yang masih tinggi di Indonesia. Tidak memenuhi kualifikasi pekerjaan, materi ajaran sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, lowongan pekerjaan yang terbatas, banyaknya pekerja yang diberhentikan dari pekerjaan (PHK) serta minimnya kemandirian pencari kerja untuk berwirausaha adalah beberapa faktor klasik tingginya penggangguran tersebut.
Penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja diharapkan dapat menghasilkan kualitas lulusan atau pencari kerja yang dapat memenuhi kualifikasi dan persyaratan yang dibutuhkan dunia kerja atau dapat melakukan wirausaha secara mandiri. Tujuan akhir dari penyelarasan ini adalah tercipta paradigma “The right man on the right place”, memperkaya lapangan pekerjaan melalui wirausaha dan sekaligus memperkecil angka penggangguran.
Beberapa langkah yang harus di lakukan untuk membangun penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja itu adalah sebagai berikut :
Penyusunan Proyeksi Kebutuhan
Pekerjaan pertama yang harus di lakukan untuk menyelaraskan dunia pendidikan dan dunia kerja adalah membangun data proyeksi kebutuhan antara kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja dengan prediksi jumlah lulusan pada setiap lokasi di Indonesia. Dengan sistem proyeksi ini di harapkan terdapat data yang mumpuni untuk memberikan prediksi tentang jurusan apa yang paling dibutuhkan oleh dunia kerja dalam 5 atau 10 tahun ke depan pada suatu lokasi/daerah.
Kurikulum Berbasis Kompetensi sesuai Kebutuhan Dunia Kerja
Kurikulum, setuju atau tidak setuju tetap merupakan kata kunci dalam penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja. Di sini juga di perlukan adanya penetapan standar mutu lulusan yang disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kecenderungan untuk merevisi kurikulum menjadi berbasis kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia usaha/pasar kerja telah lama di wacanakan oleh Pemerintah. Meskipun implementasinya secara spesifik belum terlihat secara nyata. Perlu dukungan dari semua pihak untuk mendorong percepatan revisi kurikulum tersebut. Tetapi perlu terus di ingatkan bahwa sebagus apapun kurikulum, pada muaranya akan kembali kepada guru sebagai tokoh sentral untuk menentukan metode yang tepat dalam pembelajarannya. Karena guru yang menyampaikan langsung ke peserta didik. Kurikulum tidak bisa bicara, guru lah yang berbicara.
Membangun Culture of Doing
Pekerjaan lanjutan untuk menyelaraskan dunia pendidikan dan dunia kerja adalah mengatur keseimbangan antara pembelajaran akademik dan pembelajaran keterampilan untuk mendapatkan kompetensi lulusan. Kompetensi lulusan ini berpengaruh pada link and matchdengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Berpikir kritis, kreatif, membuat keputusan, menyelesaikan masalah dan belajar dengan cepat adalah kompetensi yang diperlukan dunia kerja dan harus dimiliki lulusan. Untuk itu pendidikan harus di fokuskan untuk melakukan hal-hal yang berguna.
Untuk mendapatkan pendidikan yang berfokus pada hal-hal yang berguna, maka kita perlu membangun culture of doing. Culture of doing merangsang peserta didik untuk merubah pola pikir dari budaya “mengetahui” menjadi budaya “melakukan”. Hal ini karena meskipun secara akademik, peserta didik menguasi materi pembelajaran, tetapi mereka sering mengeluh merasa tidak ada hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan dunia nyata. Dengan terbentuknya culture of doing, maka pola pendidikan di Indonesia akan menghasilkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan dunia nyata sekaligus beradaptasi langsung dengan dunia kerja.
Dalam culture of doing, peserta didik didorong untuk terlibat dengandunia nyata, menganalisis segala sesuatu yang terjadi danmenghubungkan dengan pembelajaran yang telah mereka terima. Premis utama culture of doing adalah bahwa peserta didik harus terlibat pembelajaran baik melaluipenekanan pada upaya kolaboratif, berbasis proyek tugas, dan atau melalui fokus non-akademik. Langkah-langkah menuju pelaksanaan culture of doing adalah dengan memulai dari kelas mereka sendiri, seperti memperkenalkan “tugas-tugas yang bermakna dalam kehidupan sehari hari” ke dalam kelas. Sebagai contoh culture of doing adalah dalam pelajaran ekonomi, peserta didik dapat mempelajari konsep jual beli dengan langsung mempraktekannya di pasar dan berusaha mendapatkan laba/keuntungan. Dan di setiap akhir pekan siswa dapat di ajak untuk mengunjungi sentra-sentra bisnis lokal.
Membangun Keterampilan Kewirausahaan berbasis Muatan Lokal
Penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja harus mampu melatih lulusan untuk dapat mandiri menjadi wirausaha yang membuka lapangan kerja bagi dirinya maupun orang lain. Penyelarasan ini bersifat mendesak karena kenyataan di masyarakat menunjukkan makin tinggi pendidikan seseorang, makin rendah kemandirian terutama untuk berwirausaha. Pelatihan kewirausahaan merupakan langkah untuk membangun kemandirian itu.
Kewirausahaan bukan hanya bakat bawaan sejak lahir atau bersifat praktek lapangan. Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang perlu dipelajari. Kemampuan seseorang dalam berwirausaha, dapat dimatangkan melalui proses pendidikan dan kewirausahaan dapat menciptakkan kemampuan untuk membuat sesuatu yang baru dan berbeda. Pelatihan kewirausahaan seyogyanya di arahkan kepada kewirausahaan yang berbasis potensi daerah, untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengenal dan mengembangkan potensi daerahnya masing-masing.
Potensi lokal yang dimiliki oleh setiap daerah tentu berbeda, baik dari kekayaan alam, laut, atau hutan, yang secara keseluruhan memiliki keunggulan. Pelatihan kewirausahaan berbasis muatan/potensi lokal bisa menjadi salah satu solusi untuk mendorong pertumbuhan perekonomian nasional dan mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara agraris, maritim dan juga dapat menjadi bekal lulusan dalam menghadapi dunia pasar bebas.
Membangun Kemitraan
Pola kemitraan antara dunia pendidikan dengan pemangku kepentingan (stakeholder) dan dunia usaha/kerja perlu terus di bangun. Untuk itu perlu dukungan pemerintah dan perusahaan untuk memberikan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk belajar secara langsung di dunia kerja dengan sistem magang/prakerin/praktek kerja lapangan (PKL) untuk membuat mereka siap memasuki dunia kerja.
Dalam membangun kemitraan ini, tidak ada kendali berarti dengan sekolah-sekolah kejuruan, tetapi sulit di terapkan pada sekolah-sekolah negeri. Sekolah – sekolah negeri tidak mempunyai kultur pemagangan peserta didik. Karena sekolah-sekolah negeri berorientasi pada pelanjutan studi lebih lanjut bagi peserta didik dan bukan mempersiapkan peserta didik siap kerja. Ini mungkin tidak terlepas dari kelemahan mendasar dalam kemitraan yaitu waktu. Banyak guru takut ketinggalan jadwal pelajaran bila harus membangun kemitraan dalam hal sistem magang. Tetapi permasalahan ini dapat teratasi apabila kita berpandangan bahwa ketinggalan pelajaran tidak jadi masalah asalkan peserta didik dapat menyerap ilmu dari luar sekaligus dapat menerapkan pelajaran mereka secara nyata.
Dunia pendidikan yang hanya berorientasi pada penyelenggaraan pengajaran (teaching) dan riset menyebabkan tingkat pengganguran di Indonesia kian meninggi. Semua ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang dilakukan selama ini adalah sangat tidak efisien. Peserta didik belajar banyak hal dalam pelajaran tetapi kemudian melupakan hal-hal tersebut karena sedikitnya korelasi dengan apa yang mereka kerjakan.
Untuk itu sudah saatnya sistem pendidikan negeri ini mengubah paradigma dan orientasi yang mengarah pada upaya persiapan para lulusannya dalam memasuki dunia kerja. Jika kita ingin benar-benar melakukan inovasi untuk keluar dari krisis ini, kita harus meyakinkan diri bahwa peserta didik bisa melakukan sesuatu dengan pendidikan yang mereka terima. (Dari pelbagai sumber)
Strategi Pembelajaran Abad 21 Untuk Menunjang Kebutuhan Dunia Kerja
Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan siswa untuk berpikir kritis, mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian ketrampilan tersebut dapat dicapai dengan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi dan ketrampilan.
Kemampuan berpikir kritis siswa dibangun melalui pembelajaran yang menerapkan taksonomi pembelajaran sebagaimana disampaikan oleh Benyamin Bloom tahun 1956 yang telah direvisi pada tahun 2001. Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan pendidikan mengalami penyempurnaan pada tahun 2001 (Anderson dan Krathwohl, 2001). Taksonomi pembelajaran dikelompokan dalam dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif.
Sebagai akhir dari sebuah proses pembelajaran, penilaian formatif menunjukan sebuah pengendalian proses. Melalui penilaian formatif, dan didukung dengan penilaian oleh diri sendiri, siswa terpantau tingkat penguasaan kompetensinya, mampu mendiagnose kesulitan belajar, dan berguna dalam melakukan penempatan pada saat pembelajaran didisain dalam kelompok.
Pandangan Beers tersebut memperjelas bahwa proses pembelajaran untuk menyiapkan siswa memiliki kecakapan abad 21 menuntut kesiapan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Guru memegang peran sentral sebagai fasilitator pembelajaran. Siswa difasilitasi berproses menguasai materi ajar dengan berbagai sumber belajar yang dipersiapkan. Guru bertugas mengawal proses berlangsung dalam kerangka penguasaan kompetensi, meskipun pembelajaran berpusat pada siswa.
Dalam dunia kerja, ada sebagian di antara kita yang sangat perhitungan dengan apa yang telah diberikan kantor dan hal-hal yang menjadi hak-hak kita, namun di sisi lain cenderung menafikan kewajiban kita. Sekarang, jika kita memang menjadi bagian dari golongan tersebut, maukah kita mencoba mengubah paradigma kita terhadap dunia kerja?
Pekerjaan adalah kesempatan belajar dengan dibayar. Pekerjaan dapat menjadi wahana bagi kita untuk mempertajam kemampuan kita baik secara teknikal maupun non-teknikal dan di saat yang bersamaan, kita digaji untuk mempertajam kemampuan kita. Suatu hal yang sangat berbeda dibandingkan dengan saat kita di bangku sekolah karena kita justru harus membayar untuk memperoleh ilmu.
Jadi, ingatlah beberapa hal berikut ini. Satu, perhatikan tujuan hidup Anda. Jika Anda memiliki tujuan pengembangan diri kea rah yang lebih baik, maka selalu belajar di setiap saat dan kesempatan menjadi suatu kewajiban. Lihatlah pekerjaan sebagai kesempatan untuk belajar. Kedua, selalu buat perencanaan dan evaluasi terhadap hal-hal yang sudah Anda kerjakan. Rencanakan kehidupan profesional Anda dan selalu periksalah kemajuan Anda. Ingat kembali tujuan hidup Anda. Jika Anda berniat miskin, entah secara eksplisit atau implisit, cara pelaksanaannya sangat mudah karena menjadi miskin tidak perlu perencanaan, evaluasi dan tidak perlu bantuan siapa pun. Miskin adalah kosakata yang sangat tegas dan kejam. Ketiga, ingat bahwa ilmu adalah modal utama manusia untuk maju dan berkembang, termasuk jika kita ingin menjadi kaya baik secara pengalaman atau secara finansial. Kaya adalah kosakata yang memiliki sifat pemalu dan penakut. Kita harus selalu memikat dan memeliharanya secara berkala dan berkelanjutan.
Menjalankan hal-hal ini sangat tidak mudah, tetapi hasilnya sangat sepadan. Kini pilihan untuk menjalani kehidupan profesional kembali ke Anda. Mau melihat dari perspektif yang mana?
Daftar Pustaka
Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001). A Taxonomy for learning, teaching, and assesing. a revision of Bloom’s taxonomy of education objectives. New York: Addison Wesley Longman.
Association, N. E. Preparing 21st Century Students for a Global Society : An Educator’s Guide to the “Four Cs”.
Beers, S. Z. (2012). 21st Century Skills: Preparing Students for THEIR Future.
Center, P. P. (2010). 21st Century Skills for Students and Teachers. Honolulu:: Kamehameha Schools, Research & Evaluation Division.
Kang, M., Kim, M., Kim, B., & You, H. (n.d.). Developing an Instrumen to Measure 21st Century Skills for Elementary Student.
Krathwohl, D. R. (2002). A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview. THEORY INTO PRACTICE , 212-232.
NCREL & Metiri Group. (2003). enGauge 21st century skills: literacy in the digital age. http://www.ncrel.org/engauge/skills/skills.htm
Rotherham, A. J., & Willingham, D. (2009). 21st Century Skills: the challenges ahead. Educational Leadership Volume 67 Number 1 , 16 – 21.
Skills, P. f. Learning for the 21st century skills. Tucson,: Partnership for 21st Century Skills.

https://youtu.be/uI3g0hY9hdA
BalasHapusmenurut saya, video diatas sangat menarik sehingga prinsip pembelajaran jarak jauh bisa dilaksanakan di dalam dunia pendidikan..
Hapuskita bisa bercermin dari bêberapa negara maju yang telah lebih dahulu maju dibandingkan dengan negara kita, sedangkan sistem pendidikan yang kita jalani saat ini juga bercermin dari negara maju..
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...
BalasHapusTerima kasih atas sharing ulasan mengenai prinsip dasar pembelajaran jarak jauh untuk menunjang dunia kerja di mana kebutuhan proses pembelajaran yang tidak terbatas pada jarak, ruang dan waktu sudah menjadi tren era pembelajaran abad 21 menuju revolusi industri 4.0.
Jika diperkenankan untuk menanggapi artikel di atas, maka yang ingin direviu yaitu belum adanya penjabaran yang lebih mendalam dan sistematis mengenai prinsip PJJ yang menunjang dunia kerja sebagaimana disebutkan pada judul artikel ini. Secara umum kami mengambil benang merah dari apa yang dituliskan di atas yakni pada awal artikel dijelaskan mengenai PJJ, desain dan pengembangan sistemnya serta prinsip PJJ itu sendiri. Namun pada ulasan selanjutnya penjabarannya beralih kepada dunia pendidikan dan dunia kerja. Belum ada menyinggung prinsip yang telah disebutkan dengan kaitannya menunjang kebutuhan dunia kerja.
Selain itu pada pembahasan "Beberapa langkah yang harus di lakukan untuk membangun penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja..." Hal tersebut dari perspektif siapa?Pemerintah atau pelaku pendidikan atau pelaku dunia bisnis? Mohon pencerahannya.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sesuatu yang bersifat prinsip harus diawali dengan identifikasi masalah sehingga menjadi handycap yang membutuhkan solusi khusus. Jika pada masalah yang sudah ada diterapkan suatu solusi maka hal tersebut tidak menjadi sesuatu yang prinsip lagi.
Demikian dan mohon maaf jika kurang berkenan.
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...
Hapussaya akan menganggapi mengenai langkah yang harus dilakukan untuk membangun penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja yaitu dengan cara lebih memaknai PJJ dengan cara melatih peserta didik dalam penggunaan dan pemanfaatan serta lebih banyak berlatih secara langsung atau lebih dikenal dengan pembelajaran langsung sehingga apa-apa yang diperoleh bisa diaplikasikan dalam dunia kerja apabila peserta didik sudah memasuki dalam dunia kerja..
Assalamu'alaikum
BalasHapusIzin bertanya, bagaimana pendapat pendulis terhadap keselarasan pembelajaran jarak jauh dengan tuntutan dunia kerja saat ini, upaya apa yang harus dilakukan guru untuk mengigrasikan kedua aspek tersebut dalam kaitannya dengan pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik sesuai dengan tuntutan kecakapan hidup di era abad 21 saat ini/
Demikian terima kasih